Desember sebentar lagi berlalu, proses belajar-mengajar dan program lainnya di “Pelayanan Adik Asuh” ditutup dengan persekutuan doa bersama. Tak terasa program yang baru dengan format mengajar yang baru terlaksana 1 semester, dengan berbagai kendala dan tantangan yang ada. Muncul suatu pertanyaan, dan mungkin menjadi pertanyaan kita semua;

” Sejauh Mana Saya Sudah Melangkah?”

Pertanyaan ini adalah suatu feedback untuk mengetahui apa “saya sudah mengerjakan apa yang kita pikirkan/programkan”.

Banyak kendala yang yang saya temukan, terutama waktu.

1. Waktu untuk mempersiapkan Diri

Kadang sangat sulit membagi waktu sehingga bisa membuat bahan-bahan  pelajaran untuk adik-adik di hari Sabtu. Dari beberapa mata pelajaran kemungkinan hanya 60% berhasil mempersiapkan bahan. Belum bisanya mengontrol diri untuk tidak terbawah suasana malas karena capek kerja.

2. Waktu untuk mengajar

2 jam di potong 15-20 menit, merupakan waktu yang sangat sempit menyampaikan bahan yang kita ingin ajarkan. Entah memakai metode apa biar bisa mengakali waktu yang sangat sempit ini?

3. Waktu untuk berbagai dengan kakak asuh

Masih banyak kakak asuh yang blom saya tahu tentang mereka :)

4. Waktu untuk berbagi dengan orangtua

sampai sekarang belum satupun orangtua murid yang pernah saya ajak bertukar pikiran, apa karena ada kakak-kakak lainnya yang mengurusin kali ya?

Ya…waktu adalah musuh dan teman, yang bisa mengejar-mengejar kita untuk buru-buru, dan bisa juga membuat kita terlalu santai.

Menyikapi waktu tersebut, timbul pertanyaan :

- Sejauh mana saya berperan

-Sejauh mana pengaruh saya terhadap “Pelayanan” ini.

- Apakah pelayanan ini berguna bagi adik-adik

Sangat sulit menjawab pertanyaan diatas, dalam hati saya berkata “emang saya sudah mengerjakan/sudah setia sebagai kakak asuh, sehingga layak mengajukan pertanyaan itu?”

Memang di dalam hati kita, pikiran kita mungkin timbul pertanyaan yang belum terjawab, pertanyaan-pertanyaan yang berbeda-beda dari kita masing-masing.  Di dalam perjalanan pelayanan kita mungkin masih banyak belum terjawab, tapi apakah dengan masalah dan pertanyaan itu kita mundur?Apakah dengan masalah yang ada kita jadi malas untuk berbagi dengan mereka(adikasuh,kakakasuh,orangtua)?

Saya rasa, saya butuh adikasuh untuk mengetahui saya ini sapa, Tuhan memberi kesempatan kepada kita, untuk belajar berbagi, bersabar, dan berdisiplin dari mereka.

Suatu refleksi akhir tahun di kakakasuh oleh Bang Tohom, yang saya tangkap ;

” Kita punya masa lalu yang buat kita jatuh, kita punya masa lalu yang kita kalau bawah sampai skarang akan sangat melelahkan, ketika kita melupakan masalah lalu, ada energi besar, mungkin 3 kali lipat dari skarang”

Hmmm………,

“Iblis tahu masa lalu kita, tapi hanya Tuhan yang tahu 1 detik kemudian”

Cukup sudah pertanyaan-pertanyaan itu, biarlah kita setia dengan pelayanan,pekerjaan, dan pada talenta kita masing-masing.

Biarlah Tuhan yang menentukan apa kita layak berhasil atau tidak. Meminjam cahaya kecil lilin, kita mungkin lilin yang kecil yang akan padam, tapi biarlah cahaya itu berguna bagi penerus-penerus kita(yang lebih muda dari kita) untuk meneruskan cahaya ke generasi berikutnya.

Selamat Natal  2011 dan Tahun Baru 2012 kakak-kakak.

Ben Parhusip

(Menikmati Natal di Sidamanik)

Hari kamis, tanggal 1 sepetember 2011 yang lalu, jatuh pada hari ke 2 lebaran. Kami kakak-kakak asuh berkunjung ke tempat adik-adik asuh. Kakak-kakak asuh yang berpartisipasi yaitu Kak Vanny, Kak Dwira, Kak Qboy, Kak Audi, Kak Lia, Kak Mario, Kak Anna, Kak Yunita, Kak Corry, Kak Rita, Kak Hegel,dan Kak Sicil. Pukul 11.00 kita berangkat dari GKI KB ( Gereja Kristen Indonesia, Kebayoran-Baru) dengan menggunakan bus umum 72 menuju BRI dari gereja. Sampai disana kami disambut dengan baik oleh keluarga dari Amidah, keluarga Aprilia(Wewe),keluarga Angel dan masih banyak lagi dan dengan makanan kecil beserta soft drink.

Disana kami kakak-kakak asuh merasakan sukacita , dan ada satu cerita dari salah satu kakak asuh yang bernama Kak Hegel. Kak Hegel bermain karet bersama adik asuh yang bernama Angel, Apri, Novi dan Wewe, adik-adik merasa senang sekali setelah bermain-main bersama. Disaat adik-adik bermain, kakak-kakak asuh yang lain sibuk bercerita dengan orangtua dari adik-adik. Selanjutnya pada pukul 13.00 kita melanjutkan ke daerah rumah adik-adik yang ada di Damai dengan menggunakan bus metro-mini 610. Tetapi saat kami berjalan kaki, ada suatu tragedi salah satu kakak asuh yang bernama Kak Corry, Kak Corry merasakan sakit kepala sedikit sehingga Kak Corry terjatuh di perjalanan. Tetapi Kak Corry tetap semangat untuk bertemu adik-adik dan kami melanjutkan perjalanan. Sesampai disana kita disambut dengan sukacita oleh keluarga Ita, keluarga Karine, keluarga Satria, dan keluarga Dini. Disana kami mendapatkan kabar bahwa salah satu adik-asuh yang bernama Lina bahwa adik Lina menderita sakit tifus dari sebelum lebaran, karena keterbatasan tempat hanya 2 kakak asuh yaitu Kak Qboy dan Kak Mario yang masuk ke dalam rumahnya untuk melihat kondisi adik Lina.

Setelah dari Damai kami melanjutkan perjalanan ke rumah adik-asuh yang ada di Kober, Pangeran Antasari dan untuk menuju kesana kami menaiki  angkot 01 yang berwarna merah. Di kober kami mengunjungi rumah keluarga Amsori, keluarga Danang, dan keluarga Fatur. Kami disana di terima dengan baik dan sukacita. Dan disana kita berbincang-bincang sambil makan mie-pangsit beserta sirup yang disediakan oleh kluarga adik-adik yang ada disana. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan saatnya kami mengunjungi rumah adik-asuh yang lain yang bernama Ipung dan Iman.

Rumah yang kami kunjungi yang pertama yaitu rumah dari keluarga Iman, disana kami kakak-kakak asuh bercerita bersama dengan orang-tua Iman tentang sekolah dan pekerjan dari adik Iman. Setelah itu kami mengunjungi rumah adik-asuh yang bernama Woro. Tetapi disana kami hanya bertemu dengan orangtua dari adik Woro. Setelah itu, kami mengunjungi rumah dari adik asuh yang bernama Murni. Disana kami hanya singgah sebentar karena Murni dan keluarga mempunyai acara lain. Dan waktu sudah malam, saatnya kami kakak-kakak asuh kembali ke rumah masing-masing tetapi sebelumnya kami bersama-sama berkumpul di Gereja untuk me review kunjungan adik-asuh yang kami laksanakan dari pukul 11.00 – 18.00 WIB. Serunya kita berkunjung ke rumah adik-adik. Lebaran tahun depan kita ramaikan lagi yukkk… :)

Ditulis oleh Kak Vanny dan Kak Dwira

Aplikasi  jejaring sosial seperti facebook menawarkan platform yang efisien bagi kegiatan siswa dengan memperluas jaringan dan hubungan akrab. Situs jejaring sosial seperti  facebook bisa membantu pelajar dalam berinteraksi secara sosial dan akademik yang akhirnya meningkatkan hasil belajar.

International Journal of Networking and Visual Organizations, mengungkapkan bahwa jejaring sosial online secara langsung dan mempengaruhi secara positif pembelajaran akademik. Dalam survey yang dilakukan, mereka menyediakan platform untuk berinteraksi dan berbagi pengetahuan dan berkolaborasi menggunakan aplikasi pendidikan untuk mengelola aktivitas belajar

Kebaikan dan keuntungan penguna facebook adalah kita dapat  tahu berita-berita paling  baru dari facebook, berkomunikasi dengan teman-teman, mendapatkan teman baru dan bisa up to date status sesuai apa yang sedang dipikirkan dan coment status  orang lain

Facebook juga bermanfaat bagi siswa yang efisien dengan bersosialisasi dan memperluas jaringan pertemanan mereka dan menjaga hubungan yang akrab.Banyak orang bilang facebook itu tidak ada manfaatnya,tapi ternyata ada.Facebook juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang menarik dan games yang menarik untuk dimainkan,sehingga pengguna facebook tidak bosan untuk memainkannya.

Facebook juga bisa memperkenalkan kita dengan orang lain dan juga bias berkomunikasi secara langsung. Facebook juga menyediakan fasilitas group untuk bergabung dan berkumpul. Bisa juga membahas topic dan menggunakan aplikasi pendidikan untuk menjunjung aktivitas belajar.

Akibat buruk dari menggunakan facebook adalah lupa waktu. Karena sedang asik menggunakan facebook,orang-orang banyak yang lupa dengan urusan mereka masing-masing.Sehingga lupa untuk bekerja dan sekolah atau yang lainnya.Memainkan facebook juga berdampak negative bagi anak-anak sekolah,karena setiap anak-anak sekolah tidak sepenuhnya memikirkan pelajaran sekolahnya,tapi memikirkan facebook.

Dirangkum oleh: Danang, Putra, Johan, dan Iqbal (SMA/SMK)

Referensi: Vivanews

 

Tuhan memberikan warna putih untuk awan

Warna biru untuk laut dan langit

Warna hijau untuk daun, dan

Warna kuning untuk matahari

 

Tuhan memberikan warna-warna ceria

Untuk anak-anak

Beserta senyum yang manis

Jangan ambil itu dari anak-anak

Karena Tuhan yang memberikannya.

Adik-adik asuh di kelas kak Eni memegang hasil mewarnai gambar dan menempel origami buatan mereka. Warna cerah yang dipilih adalah mewakili impian setiap anak untuk menikmati masa kecil penuh keceriaan.

ditulis oleh: kak Sisil

Foto: kak Devi Sonya

Liburan kemarin saya ke Bogor, tepatnya ke desa Cinangneng. Saya berangkat hari sabtu pagi jam tujuh. Di sana saya bermain-main. Saya bermain angklung, saya membuat wayang golek dari batang daun singkong. Pertamanya sih susah, setelah diajari akhirnya saya bisa juga.

Niko, Ansori, kak Vanny, Alan, dan wayang hasil buatan kami dari daun singkong. Bagus kan?

Saya lalu menggambar dan mewarnai di atas caping. Saya menuliskan kalimat Cinangneng Bogor 2011. Setelah menggambar, saya belajar menari jaipongan. Gerakannya cepat dan sedikit sulit. Saya lalu pergi ke tempat pembuatan kue bugis. Sangat menyenangkan. Setelah membuat kue bugis, saya belajar membuat wedang jahe. Saya kira rasanya tidak terlalu pedas, ternyata pedas sekali.

Serbuk untuk wedang jahe yang kami buat juga bisa dimakan sebagai permen jahe. Rasanya agak pedas tapi membuat badan terasa hangat.

Lalu, saya istirahat dan makan siang. Setelah makan siang saya diajak mengunjungi kampung warga. Di sana ada yang membuat engrang, tas, dll. Barang-barang itu dijual.

Teknik menanam padi disebut 'Menandur' atau menanam sambil mundur.

Setelah itu saya pergi ke sawah untuk menanam padi. Setelah menanam padi di sawah, saya menyeberangi sungai dengan seutas tali, lalu saya juga memandikan kerbau. Setelah memandikan kerbau, saya membersihkan diri dan bersiap-siap pulang ke Jakarta.

 

ditulis oleh: Niko (adik asuh kelas 7)

Foto: kak Devi Sonya

Kampung Cinangneng, Kecamatan Ciampea Udik, Bogor, terdengar gaduh oleh teriakan dan celotehan sekitar 56 adik asuh GKI Panglima Polim, Sabtu, 16 Juli 2011. Di tengah arus air yang tenang, sekelompok anak mencipratkan air ke tubuh kerbau-kerbau yang tambun. “Mandiin kebo, cuy..!” gumamku.

mandiin kerbau

Ka Sisil dan adik asuh memandikan kerbau di belakang sungai Kampoeng Cinangneng, Bogor

Namun, seakan tak terusik, dua kerbau yang dikawal sang gembala tetap berdiam di rendaman air sungai yang berada di belakang “Garden Guest House, Kampoeng Wisata Cinangneng”. Kaka Sisil, lulusan Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, termasuk yang antusias mengajak adik-adik untuk mengenal lebih dekat si kebo ‘halah’ maksudnya, mencoba mendekatkan tangan mungil adik-adik untuk memegang tubuh jinak kebo.

Sementara sebagian dari adik-adik , asyik bermain air sambil bersandar di batu-batu kali. Ada yang tidur-tiduran, tak khawatir pakaian basah kuyub. Tawa mereka lepas, karena akhirnya malah saling mencipratkan air satu sama lain. Di sudut lain, adik-adik remaja, tampak mengambil pose untuk foto-foto lewat ponsel. Mungkin demi ‘update status’ di facebook

Ya, keriaan di Cinangneng seakan tak terlupakan. Menikmati masa liburan sekolah, puji Tuhan, adik-adik asuh dapat merasakan rekreasi bersama kaka asuh. Mereka tidak sekedar basah-basahan saja, tapi juga keringat mereka sempat bercucuran saat berlatih tari bersama teteh yang piawai meliak-liukkan tubuh dan pinggulnya. Berdandan cantik bak pengantin, dengan kebaya hijau dan sanggul mungil yang diberi hiasan melati. Seorang adik, sempat celetuk “Hei ada penganten..” Rupanya dia sang guru tari.

menari jaipong

Bersama teteh yang cantik 'bak pengantin', adik asuh berlatih menari Jaipong. Tangan dan kaki, serta pinggul digoyangkan.

Secara bergantian dibagi menjadi tujuh kelompok, adik-adik dipandu akang dan teteh untuk belajar banyak hal. Mereka berputar dari saung satu ke saung lainnya. Selain memandikan kerbau di sungai, dan berlatih tari di aula mini dekat kolam renang, kegiatan lainnya adalah melukis caping, bermain angklung dan gamelan, membuat wayang, membuat kue, dan melihat pembuatan tahu tempe. Senangnya..

Saat melukis caping, adik-adik terlihat mampu menuangkan kreasi seninya lewat coretan yang disepakati bertajuk “Kampung Cinangneng 2011”, dengan kuas dan tinta minyak warna warni. Hasil karyanya lalu dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Hasil karya lainnya yang juga dibawa pulang adalah wayang yang terbuat dari batang daun singkong.

Cara membuatnya mudah saja, cukup sediakan sepuluh batang daun singkong, lalu diikat-ikat mengikuti pola tertentu. Menurut teteh pendamping bisa juga membuat wayang dari sedotan. Cuma hasil dari sedotan kurang lentur dibandingkan dengan batang daun singkong. Ka Eni, salah satu kaka asuh mengatakan senang bisa mencoba membuat wayang. “Gampang,” katanya tersenyum.

ini wayangku

Wayang yang terbuat dari batang pohon singkong dipamerkan bangga oleh adik asuh

Pelajaran seni yang terbilang butuh kekompakan juga diajarkan kepada adik-adik. Yakni saat bermain angklung dengan not lagu “Rayuan Pulau Kelapa” dan “Burung Kakatua”. Meski adik-adik masih terlihat bingung dengan not-not yang ditunjuk teh Ria, dengan tongkat kayunya pada partitur, tapi semangat adik-adik untuk mengoyang-goyangkan alat musik dari bamboo itu mempesona sekali. Kaka asuh pun terlihat beberapa orang yang memegang angklung, di antaranya Ka Merry, Ka Mario, dan Ka Martha.

Ketika bermain gamelan, kekompakan sebagai sebuah tim juga terlihat saat Narti, Tuti, Indri dan kawan-kawan memainkan catrik. Menurut akang Ridwan, yang memandu mereka, catrik biasanya untuk upacara/kawinan, menyambut pria. Nadanya da mi na ti la. Ada yang memukul mukul bonang, saron, dan gong. Saat bermain 10 orang bersama pelatih gamelan, Mang Gani, para remaja ini mesem-mesem.. Hehe mungkin juga karena Mang Gani dan kang Ridwannya ganteng .

main gamelan

Tuti dan Mang Gani dan delapan adik lainnya memainkan catrik

Namun saat adik-adik yang TK dan kelas 1 SD bermain gamelan, mereka terus memukul sesuka hati saja.. Yang penting pengenalan ya dik.. Ini namanya gamelan, siiipp..

Nah di tengah kesibukan aktivitas yang dijalani, sajian makan siang telah disediakan. Adik dan kaka semuanya terlihat lahap menyantap menu ayam goreng, tahu tempe, ikan asin, lalap, sayur sop/asem, dan lalap. Setelah itu, adik-adik bersiap-siap untuk mengelilingi kampong dan berkenalan dengan warga sekitar. Mereka melihat wirausahawan yang membuat tas, kaos dan jaket serta berjalan-jalan mengelilingi sawah.

menyusuri sawah dan keliling kampung

Menyusuri sawah dan keliling kampung

Akang dan teteh pemandu memberikan keterangan tentang padi, dan keong emas. Disusul kemudian dengan menanam padi dengan teknik jalan mundur. Walhasil, baju dan kaki pun berlumuran lumpur coklat. Kalau kaka-kaka sih, cukup lihat dan potret sajalah ya..

menanam padi

Menanam padi dengan berjalan mundur

Dan sebagai akhir dari pelajaran tentang alam di Kampoeng Cinangneng, adalah berjalan menyusuri sungai serta memandikan kerbau. Beres sudah, mandi deh di pancoran berbatang bamboo. Puji Tuhan, wajah-wajah segar dan gembira terpancar dari adik semua. Apalagi setelah sertifikat dari penyelenggara telah di tangan mereka.

Terima kasih juga kepada Ka Anna dan Ka Audi yang sudah mempersiapkan acara liburan yang tak terlupakan ini. Serta sebelas kaka lainnya, yang telah ikut mendukung seluruh kegiatan. Tuhan memberkati kita selalu.

group photo

Inilah kaka dan adik asuh yang ikut serta ke Cinangneng

Martha Silaban

(www.smartata.wordpress.com)

Pelatihan Kakak Asuh 2010: MENGAJAR EFEKTIF & KONTEKSTUAL

designed by: Riky Boy H. Permata

DI dinding putih itu tertulis “Pentas Seni 2010, Persahabatan”. Inilah ajang kreasi yang pertama kali dihadirkan bagi adik dan orang tua asuh GKI Panglima Polim, Jakarta.

Sebuah tarian tradisional Betawi, membuka acara yang berlangsung sekitar 1,5 jam ini. Tiga gadis cilik melenggak-lenggokkan pinggulnya dengan irama musik riang, di Sabtu 28 Agustus siang yang cerah itu.

Penonton pun tersenyum. Sajian berikutnya adalah tarian modern dari The Angels dengan iringan lagu Baby by Justin Bieber, artis yang sekarang terkenal di Amerika Serikat. Wah, rupanya adik asuh gaul juga..

Apa arti persahabatan

Tema persahabatan pun mulai terasa, ketika pembawa acara K Dwira dan Danang, perwakilan adik asuh mulai berkomunikasi dengan penonton. “Apa arti persahabatan di Indonesia?”

E e..eh, tapi ibu-ibu rupanya masih malu-malu menjawab, ketika mikrofon diarahkan dekat mulut mereka.

Dan akhirnya, K Martha deh yang jawab, bahwa persahabatan di Indonesia cukup unik. Karena dari berbagai suku bangsa dan berbeda agama dapat hidup berdampingan. Ada yang berasal dari Jawa, Sunda, dan Batak. Adik asuh dan kakak asuh yang berbeda keyakinan, tidak terhalang untuk saling membantu.

Meskipun kadang-kadang ada kekesalan dalam persahabatan, tapi seperti kepompong yang akan indah bila dijalin.

Jrenngg.., gitar pun dipetik dan adik asuh mulai mendendangkan lagu “Persahabatan Bagai Kepompong”. Sedikit liriknya mengatakan persahabatan sesuatu yang tak mudah tapi berubah menjadi indah. Maklumi teman hadapi perbedaan.

Suasana pensi—singkatnya– terasa semakin menarik ketika pertunjukan drama yang dilatih oleh kakak-kakak dari PSP. Lucu, tapi pesan tentang persahabatan dan pertemanan tertuang di dalamnya.

Ya… semoga adik-adik dapat mengambil manfaat positifnya. Tidak kalah narsis, kakak asuh pun tampil. Dengan mengenakan kostum baju berwarna cerah, 16 kakak bersemangat menembangkan “Usah Kau Lara Sendiri” yang populer dinyanyikan Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya.

Wah, saya pribadi nggak nyangka kakak asuh bisa nyanyi dengan oke juga nih. Kirain suaranya saja yang kencang kalau ngajar. Prikitiww..

Bernyanyi Lagu Usah Kau Lara Sendiri

Yang tidak kalah istimewa adalah modern dance dari Grup The Angels (tiga siswi kelas 9). Kata Mila, salah satu dari mereka “Kita sengaja beli kemarin malam”. Ya, di atas panggung mereka terlihat cantik dengan kaos pink dipadu short pant dan ballet shoes.

The Angels dari Grade 9

Dan ketika pesan dari K Sisil dan K Qboy disampaikan kepada hadirin, giliran orang tua yang mulai percaya diri, untuk menjawab pertanyaan. Salah satunya orang tua Narti, yang sudah berani berekspresi ketika ditanyakan apakah orang tua siap menjadi sahabat bagi anaknya? “Ya, karena kalau saya main dengan anak saya (Narti), seperti muda kembali” Narti pun mengiyakan pernyataan ibunya.

Selain pesan persahabatan, K Sisil pun meminta adik-adik untuk mendapatkan nilai-nilai yang bagus di semester ini. Sehingga pensi tahun depan bisa terselenggara.

Kakak Asuh dan Para Undangan

Ditutup dengan doa, acara ini pun berakhir dengan group picture per kelas, dan pembagian makanan untuk berbuka puasa. Mengutip lagu Persahabatan Bagai Kepompong, semoga persahabatan kita tetap hangat, mengalahkan sinar mentari.

(Martha Silaban)

Jambore Sahabat Anak XIV, 10-11 Juli 2010. Untuk kesekian kalinya saya mendengar nama adik yang satu ini dipanggil-panggil. Suara musik dan padatnya kerumunan adik-adik, juga kakak-kakaknya, menyulitkan saya menemukan kakak yang mencari dan adik yang dicari. Saya mundur agak ke belakang, kak Sutan salah seorang relawan Sahabat Anak untuk Jambore kali ini langsung menghampiri dan bertanya: “Kak, lihat adik Ade?”. Saya mengatakan tidak, tetapi pastinya ada di antara kami walau sulit langsung ditemukan karena tempat kami berdiri agak gelap. “Ade dicari kak Qboy!”, lanjut kak Sutan. Yang disebut namanya tadi muncul di tempat kami dengan pertanyaan yang sama, “Kak, lihat Ade?”, di tangan kak Qboy ada plastik kecil, “Saya dipesankan ibunya sebelum berangkat Jambore tadi kalau Ade harus minum obat!”. Lalu kami mencari adik yang bernama Ade.

Ade yang sekarang kelas 3 SD berada di antara adik-adik lainnya di barisan paling depan. Waktu dipanggil, dia langsung datang, tetapi mengetahui akan disuruh minum obat, sontak ia kabur. Jadi kami harus berusaha lagi menemukan Ade. Waktu Ade berhasil kami temukan, saya langsung merangkul dan mendudukkannya di pangkuan saya. Cukup manjur sih, Ade mau mendengar nasehat saya untuk minum obat. Tetapi waktu kak Qboy datang dan menyodorkan obatnya, lagi-lagi Ade kabur, dia berlari ke tenda disusul saya dan kak Qboy. Duh!

Ade sedang meringkuk di pojok tenda sembari membongkar-bongkar isi ranselnya, mengeluarkan ini-itu setelah itu memasukkannya kembali, dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi, dan menghindar kontak mata dengan kami. Sekali lagi saya membujuknya minum obat dengan sabar dan mengatakan jika ia perlu beberapa menit maka kami akan menunggu dan menemaninya di situ. “Tidak usah! Saya minum saja sekarang!”, katanya tanpa memandang kami. Saya menyiapkan air mineral, kak Qboy menyodorkan obatnya. “Lho, banyak sekali obatnya!”, saya sedikit tercengang. Kak Qboy mengangguk, “…makanya, saya tidak tega memaksanya minum obat”. Saya memeriksa sebentar obatnya, itu adalah obat yang harus dikonsumsi dalam waktu beberapa bulan dan saya bisa merasakan tertekannya seorang anak minum obat sebanyak itu dalam waktu lama. “Kamu mau obatnya Kakak hancurkan dulu agar gampang minumnya? atau, kamu mau biskuit untuk mengurangi rasa pahit?”, kami menawarkan. “Tidak usah! Saya bisa minum semuanya sekaligus!”, semua obat itu sudah ada di telapak tangannya yang kecil. “Tunggu!”, kata saya lagi, “Ucap doa dulu atau bilang Bismillah, minta Tuhan tolong kamu cepat sembuh!”. “Tidak usah! Tidak perlu berdoa.. minum obat saja!”, lalu semua obat itu ditelan dalam sekali teguk.

Kami mendekat padanya. Ia mulai lagi dengan aktivitas membereskan isi ransel yang tidak jelas. “Kamu marah ya sama Kakak?”, dia melihat kami sejenak. “Tidak saya tidak marah sama Kakak!”, sedikit terganggu dengan pertanyaan saya tadi. Di luar sana adik-adik yang lain masih menikmati musik dan sebentar lagi ada dongeng dari kak Awam. “Kakak minta maaf ya!”, saya serius mengatakan hal ini. “Tidak Kakak, saya tidak marah sama kakak!”, jawabnya cepat. “Tapi Kakak tetap harus minta maaf sama kamu. Pastinya kamu merasa tidak suka disuruh-suruh minum obat seperti tadi. Maaf ya…”, saya menjelaskan. “Kakak juga minta maaf ya. Kakak juga membuat kamu merasa tidak enak begini”, timpal kak Qboy di samping saya. “Kakak! Saya tidak marah sama kakak! Saya tidak marah sama kakak!”, suaranya meninggi, tetapi memang dia tidak lagi marah, ranselnya sudah digeletakkan begitu saja, pandangan matanya berpapasan dengan pandangan kami, dia tahu kami menghargai perasaannya dan kami tahu saat itu tembok di hatinya sudah runtuh.

Saya dan kak Qboy membantu membereskan isi ranselnya yang berantakan setelah itu kak Qboy kembali ke area panggung mendampingi adik-adik yang lain menyaksikan dongeng dan pertunjukan sulap. Saya masih menemani Ade di tenda bersama dua adik lainnya yang datang belakangan karena kelelahan berdiri. Saya menyuruh mereka tidur tetapi rupanya mereka lebih suka mendengar cerita saya tentang si Thomas (sebuah penggalan masa kecil Thomas Alfa Edison yang dibawakan dalam bahasa anak-anak) dan setelah itu gantian saya yang mendengarkan curhat mereka hehe termasuk penegasan Ade bahwa ia tidak marah kepada saya dan kak Qboy. Karena adik-adik batal ngantuk, kami kembali ke area panggung lagi dan menyaksikan pertunjukan sulap.

Setelah itu, selama Jambore, dimana ada saya di situ ada Ade dan saya jadi tertawa sendiri karena bahan ceritanya tidak habis-habis padahal sebelumnya Ade tidak termasuk anak yang banyak bicara. Besoknya dia masih berusaha kabur sebelum jam makan pagi, tetapi setelah saya ajak, ia  dengan senang hati kembali dan memilih makan dalam tenda karena ada kak Qboy di situ. “Kak, kalau pagi obatku tidak banyak. Aku akan minum yang ini belakangan, karena rasanya manis”, Ade tersenyum sambil memegang 3 butir obat, salah satunya yang dibilang manis adalah vitamin C. “Ade berdoa dulu ya atau bilang Bismillah sebelum minum obat?”, pintaku lagi. “Tidak usah, kak! Minum obat saja!”, saya belum bisa mengubahnya untuk hal yang satu ini. Saya juga tidak yakin, jika saya yang berada di posisinya, akan bisa tangguh untuk menjalani pengobatan dan tetap bersyukur pada Tuhan. Tapi saya yakin, bahkan kata-kata ‘tidak usah’ yang terucap darinya adalah juga sebuah doa karena ketika seseorang tidak cukup kuat untuk berdiri, maka pada akhirnya ia hanya perlu bersujud.

Kata ‘maaf’ memang hanya sebuah kata yang pendek dan sederhana, tetapi kata tersebut memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberi makna baru bagi sebuah relasi. Kata ‘maaf’ tidak hanya digunakan untuk kesalahan yang diakui, tetapi kata ‘maaf’ juga mewakili ungkapan bahwa kita menghargai perasaan orang lain yang tidak nyaman atas perbuatan atau perkataan kita atau suatu kondisi yang tak terhindarkan. Termasuk kepada anak-anak. Kata ‘maaf’ merupakan titik kulminasi Ade pada saat Jambore kemarin. Dan suatu saat nanti, saya berharap Ade bisa menyapa Tuhannya dan mengatakan, “Tuhan terima kasih karena saya telah sembuh”.

Jakarta, Juli 2010

Terimakasih Tuhan karena pada Jambore tahun ini, saya boleh lebih menikmati momen interaksi dengan adik-adik secara personal.

(George Sicillia)

Hari Anak Nasional sudah dicanangkan sejak 24 tahun yang lalu yaitu sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden RI No. 44/1984 tentang Hari Anak Nasional. Hari Anak Nasional seyogyanya menjadi momentum bagi negara untuk memberikan pengakuan, penghormatan dan memfasilitasi terpenuhinya hak-hak anak yang telah diratifikasi oleh negara kita. Sesuatu yang sangat disayangkan gagal diberikan tahun ini.

Bagaimana jika setelah 24 tahun, negara kita belum juga mampu menjalankan peran ini? Mungkin anak-anak bukan prioritas yang perlu mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, padahal masa depan anak-anak bangsa adalah masa depan bangsa kita. Bagaimana masa depan bangsa kita kelak jika negara sebagai pengayom dan pelindung tidak mengasihi dan menghargai anak-anak?

Jangan menyerah! Selalu ada hal-hal kecil dengan kebesaran jiwa yang tetap dapat kita lakukan untuk anak-anak Indonesia. Tim Pelayanan Adik Asuh dalam melakukan pendampingan belajar kepada adik-adik berusaha memberikan pengalaman dikasihi dan dihargai pada masa kecil kepada adik-adik. Semoga dengan kenyataan yang tidak selalu indah disodorkan oleh kehidupan, adik-adik bisa tumbuh dan berkembang menggapai potensi terbaiknya dengan tetap mengingat bahwa kami mengasihi dan menghargai mereka.

Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2010!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.