Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are!

Dipandu oleh kak Rery, adik-adik menyanyikan lagu tadi dengan sedikit canggung karena tidak terbiasa dengan lagu berbahasa Inggris. Kak Dita membantu mengartikan lirik lagu tersebut sambil membantu menambahkan beberapa kosakata bahasa Inggris untuk adik-adik. Adik-adik bukannya tidak pandai, mereka hanya tidak terbiasa saja. Tim Pelayanan Adik Asuh sadar bahwa belajar bukan hanya kegiatan menghafal rumus Matematika atau mengeja abjad Bahasa Indonesia, tetapi belajar adalah sebuah budaya juga yang didalamnya ada proses pembiasaan untuk menggali potensi terbaik yang dimiliki anak.

Twinkle twinkle little star.. how I wonder what you are..

Tanggal 9 Januari 2010 adalah pertemuan perdana kegiatan belajar di tahun 2010. Adik-adik begitu gembira berkumpul. Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Beberapa adik kelas 0 berlarian kesana-kemari, ditangan mereka ada beberapa lembar kertas yang dipakai sebagai uang-uangan. Rupanya mereka sedang belajar berhitung sambil beraksi seperti ibu-ibu yang sedang belanja. Hitungannya banyak yang salah tetapi tidak apa-apa, kak Vanny cukup sabar untuk mengajar tanpa merampas kesenangan kanak-kanak mereka.

Belajar perlu menjadi sebuah proses yang menyenangkan

Kegiatan berlangsung di ruang Athena. Kak Mario dan kak Audy sudah menyiapkan layar dan LCD. Sementara kak Ben, kak Dita dan kak Sisil menyiapkan sejumlah pertanyaan quiz. Kakak lainnya menjadi pendukung dan penyemangat. Quiz ini dimaksudkan untuk menyegarkan kembali ingatan adik-adik pada pelajaran yang telah lalu dan sebagai penyemangat untuk memasuki semester yang baru. Adik-adik dibagi menjadi empat regu. Regu A adalah adik-adik kelas 1 s.d. 3. Regu B adalah adik-adik kelas 4 s.d. 6. Regu C adalah adik-adik kelas 7 s.d. 9. Regu D adalah adik-adik kelas 10 s.d. 12. Setiap regu mendapatkan jumlah soal yang sama tetapi bobotnya berbeda sesuai dengan jenjang kelas masing-masing. Ada soal Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Bahasa Inggris, IPS dan Pengetahuan Umum. Quiz ini dimenangkan oleh regu B sebagai penjawab terbaik.

Adik-adik dan kakak asuh dengan segala keterbatasannya tetap meyakini bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari mimpi yang sederhana. Semoga ketika adik-adik bertumbuh semakin besar, mereka boleh merasakan bahwa para kakak asuh percaya pada potensi terbaik yang ada pada diri mereka seperti bintang-bintang yang berkilau laksana berlian di langit malam.

Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are…

(George Sicillia)

Tim Adik Asuh wish you a very Merry Christmas and a Happy New Year 2010

Panasnya matahari langsung terasa saat Tim Tanggap Darurat (TTD) GKI Kebayoran Baru menapakkan kaki di Bandara Minangkabau pagi itu, Minggu 11 Oktober 2009.  Walaupun sebagian besar dari kami baru kenal saat itu, TTD yang terdiri dari tiga pemuda GKI KB (Noel, Ditra, Davin), tiga dokter dari Universitas Kristen Indonesia (Uli, Amel, Ayu), dan dua orang dari Tim Adik Asuh GKI KB (Jeanny dan saya sendiri) melangkah bersama-sama, siap menjalankan tugas pelayanan kami di ranah Minang.

Sebagai perwakilan dari Tim Adik Asuh, saya dan Kak Jeanny ditugaskan sebagai tenaga pendampingan anak-anak korban bencana gempa bumi yang terjadi beberapa hari sebelum kedatangan kami di Sumatera Barat.  Semuanya serba mendadak dan persiapan kami pun apa adanya. Namun setibanya kami di sana, rasa khawatir yang sempat timbul di dalam diri saya pun segera lenyap, berganti dengan sukacita penuh (maklum, baru pertama kali ke Pulau Sumatera) dan semangat besar untuk melayani.

Di bandara pagi itu, kami disambut oleh dua orang rekan pemuda Bren dan Widi, yang telah terlebih dahulu dikirim sebagai tim survey TTD.  Dengan menumpangi dua mobil milik Pendeta Apollo dan salah seorang anggota jemaat gerejanya, Bren dan Widi mengantar kami ke Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Rantau yang terletak di Kampung Nias, kota Padang, yang juga merupakan posko TTD sekaligus tempat kami menginap dengan sangat nyaman selama seminggu.

Matahari terus menyinari perjalanan kami menuju gereja Rantau. Di atas kami melihat langit biru yang sangat indah dihiasi awan-awan putih, sebuah pemandangan yang  langka bagi penduduk Jakarta. Lain halnya dengan pemandangan di sekitar kami. Memasuki kota Padang, kami melihat tanda-tanda kerusakan yang diakibatkan gempa. Beberapa bangunan terlihat retak dan bahkan ada yang rubuh, rata dengan tanah. Bencana itu tentunya meninggalkan banyak duka bagi penduduk setempat.  Namun saya kagum melihat banyak toko-toko dan berbagai usaha perdagangan lainnya sudah berjalan kembali. Masyarakat setempat pun terlihat sudah mulai menjalankan rutinitas kesehariannya. Sepertinya masyarakat Minang sudah bangkit kembali dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Setibanya kami di Gereja Rantau, kami disambut oleh Bapak Pendeta Apollo dan keluarganya beserta seluruh anggota jemaat yang baru menyelesaikan ibadah Minggu pagi itu. Siang itu kami membuka posko medis di samping gereja untuk memberikan pengobatan gratis bagi penduduk sekitar, sementara saya dan Kak Jeanny mengakrabkan diri dengan anak-anak jemaat.  Selain “menguji coba” berbagai aktivitas dan permainan yang kami bawa dari Jakarta, kami juga memperoleh gambaran mengenai keadaan anak-anak di Padang.  Logat bahasa Indonesia mereka memang sedikit berbeda, namun anak-anak di Padang sama saja dengan anak-anak di Jakarta dan dimanapun juga;  mereka selalu senang bermain :) .

Aktivitas belajar adik-adik kelas 1 s.d. 3, Bunga Mas, Padang

Selama beberapa hari pertama, TTD mendatangi daerah-daerah tempat tinggal anggota jemaat yang mengalami kerusakan akibat gempa seperti Perumahan Bunga Mas, Tabing, dan Pariaman.  Tim Medis membuka posko pengobatan gratis, sementara Kak Jeanny dan saya bermain dan belajar dengan adik-adik setempat.  Ternyata sekolah sudah dimulai hari Senin 12 Oktober 2009.  Namun sebagian besar sekolah, terutama SD, baru mengisi kegiatannya dengan bermain dan jam sekolah hanya setengah hari.  Medan pelayanan ini memang baru bagi saya dan Kak Jeanny, namun kami selalu membawanya dalam doa dan selalu berusaha untuk saling menenangkan di kala kami merasa cemas.  Alhasil, kami melihat anak-anak itu bersukacita dan kami turut bersukacita karenanya. Permainan dan lembar-lembar aktivitas seadanya yang kami bawakan pun laris manis. Anak-anak yang kami temui sangat aktif, kritis, dan humoris.  Banyak anak-anak juga sangat pintar dan dapat menyelesaikan semua permainan dan aktivitas yang kami anggap cukup sulit untuk anak-anak seumuran mereka.  Sesekali beberapa anak terlihat cemas karena merasa terjadi gempa, sepertinya bencana yang telah mereka alami meninggalkan sedikit trauma di dalam diri mereka. Namun kecemasan itu tidak pernah berlangsung lama dan mereka pun ceria kembali. Di penghujung hari walaupun lelah, saat perpisahan dengan anak-anak setempat selalu terasa mengharukan.  Ada sekitar 100-an anak di setiap lokasi yang kami datangi dan semuanya meninggalkan kesan yang mendalam.

Aktivitas belajar darurat adik-adik kelas 4-6 SD di Bunga Mas, Padang

Pada hari ke-4, kami sudah menyelesaikan misi kami di semua target lokasi yang telah ditentukan. Maka pada hari ke-5, TTD bergabung selama sehari dengan organisasi Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) yang membuka posko di daerah Balimbing dan Banuaran. Kami mendapat informasi bahwa jumlah anak-anak di kedua lokasi ini jauh lebih banyak, sementara persediaan lembar aktivitas untuk anak-anak kian menipis dan kondisi fisik saya dan Kak Jeanny pun semakin lemah. Namun kami serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Dan betapa beruntungnya kami, hari itu saya dan Kak Jeanny mendapat bala bantuan yang sangat menyegarkan dan di saat yang sangat tepat.  Karena tim medis dari GKI sudah cukup memadai, maka kegiatan pendampingan anak kali ini dibantu oleh anggota-anggota TTD lainnya.  Panas yang menyengat dan hujan yang deras menghiasi hari itu, tapi keceriaan nampak di setiap wajah, baik anak-anak maupun kakak-kakak yang bermain dan mendampingi mereka.

Misi pelayanan kami yang terakhir kami salurkan di daerah Air Dingin tempat Lokasi Pembuangan Akhir kota Padang.  Di sini saya dan Kak Jeanny mendapat kesempatan untuk mengajar anak-anak SD di Musholla karena bangunan sekolah mereka sedang diperbaiki. Seperti di lokasi-lokasi sebelumnya, masyarakat setempat menerima kami dengan sangat baik.  Dengan demikian kami pun dapat melanjutkan misi kami untuk menyebarkan kasih kepada sesama manusia tanpa mempersoalkan perbedaan agama.

Jika saya renungkan kembali perjalanan kami selama satu minggu itu, tidak akan ada habisnya saya mengucap syukur kepada Tuhan.  Berbagai keajaiban demi keajaiban kami saksikan dan kami alami selama di sana. Dari panasnya kota Padang sampai dinginnya Bukittingi. Dari kesibukan masyarakat Minang yang terlihat di jalan-jalan sampai eratnya persekutuan jemaat Gereja Rantau. Dari pemandangan indah Ngarai Sianok sampai tawa anak-anak yang kami temui.  Bahkan kami lolos dari bahaya tanah longsor yang terjadi saat kami melewati Padang Panjang. Kami tidak pernah kekurangan dan senantiasa dilimpahi sukacita. Tentunya semua itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan serta dukungan dari kekasih-kekasih kami yang selalu mendoakan kami dan mengirimkan kata-kata penyemangat yang menguatkan kami. Bencana gempa yang telah terjadi membukakan hati kami untuk menjamah masyarakat di Sumatera Barat, dan kesediaan mereka untuk menerima kami telah memperlancar misi kemanusiaan GKI Kebayoran Baru. Semoga pelayanan kami bermanfaat bagi mereka dan berkenan di hadapan Tuhan. Sungguh keajaiban Tuhan itu nyata, tidak hanya bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya tapi bagi seluruh umat manusia. Dan keajaiban-Nya itu telah kami saksikan di Ranah Minang.

Bermain dan tertawa adalah bahasa universal anak-anak dimana saja, termasuk anak-anak Balimbing yang baru saja mengalami bencana gempa bumi di Padang

Kiranya kasih Tuhan dapat selalu disebarkan di seluruh permukaan bumi ini melalui anak-anak-Nya dan Indonesia selalu dalam lindungan Tuhan. Amin. (Dita Novita Maharani)

Sarasehan: Implementasi KTSP dalam Pendidikan Informal

Sarasehan: Implementasi KTSP dalam Pendidikan Informal

“..Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada Yang Kuasa

Cinta kita di dunia, selamanya..”


Potongan lirik Laskar Pelangi ini berulang-ulang dinyanyikan adik asuh Panglima Polim dalam Jambore Sahabat Anak di Cibubur, 19-20 Juli lalu. Dipilih sebagai yel-yel, boleh jadi lagu ini yang kemudian menjadikan adik-adik so sweet, selama acara berlangsung.

Di sesi Karya Nusantara, yel-yel itu wajib hukumnya dinyanyikan. Karya Nusantara adalah rangkaian acara yang menyajikan berbagai kreativitas: membuat pajangan kertas, membuat batik, kerajinan pembatas buku dan mote, kerajinan lampion dan mainan anak, serta mengenal alat musik tradisional.

Setiap kali adik-adik pindah area untuk belajar kreasi, panitia meminta mereka untuk menampilkan yel-yel. ”Wah, so sweet,” komentar salah satu kakak panitia mbatik, usai tim Bangka Belitung menampilkan yel-yelnya di hadapan mereka dan peserta lainnya. Wah Kak Nia sang koreografer pun bangga disebut so sweet ya.. :)

Kenyataannya mereka memang manis dan bersikap sopan sepanjang acara. Ke 26 adik yang ikut Jambore ini terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi di rangkaian Karya Nusantara. Secara bergantian maju ke depan dan membuat karya. Atau beramai-ramai mengerjakan perintah/permintaan panitia kreasi anak.

5-small

Salah satu adik, Andre, terlihat bersemangat ketika membuat pembatas buku. Ia menyimak petunjuk dari salah satu kakak panitia berkaos kuning yang cantik. Dan Andre kemudian tersenyum bangga ketika pembatas buku bergambar orang yang mengenakan peci dan batik itu telah selesai dibuatnya. Hmmm…

6-small

Tapi bukan hanya di sesi kreativitas saja, adik-adik ceria dan aktif. Di sesi olimpiade sahabat anak pun (Olisa I dan II), mereka sportif. Seperti sudah sepenggal diceritakan di Tertawa di Rumput hijau bagian I. Kisah lainnya, bahwa biarpun kekalahan demi kekalahan datang beruntun, tapi semangat tanding tak pernah luntur.

Saat pertandingan tarik tambang, mereka yang terdiri atas Ari F, Ipung, Mila, Salamah, Andre dan Nita harus bertanding dengan adik-adik dari tim lawan yang berbadan besar. Perjuangan mereka patut diacungi jempol, karena hasilnya 2-1. Meski kalah, tapi setidaknya Kak Arend yang memandu mereka boleh bangga. ”Mereka sampai sempat tarik rumput untuk tahan tambang,” kata Kak Arend.

7-small

Yang tidak kalah menegangkan, ketika pertandingan yang melibatkan dua kakak asuh. Kak Q Boy dan Kak Daniel (rekan dari Sahabat Anak), harus bertarung dalam permainan ’Buntelan Semar’—mirip main naga-nagaan. Yakni adik dan kaka berbaris berpegangan tangan satu sama lain.

Kak Q Boy yang berada di baris depan—sebagai kepala naga, matanya dibuat tertutup sehelai kain, sedangkan Kak Daniel menjadi ekor dari barisan itu. Sedangkan adik-adik berada di antara kedua kakak. Nah agar lawan mati, kepala naga harus memukul atau melemparkan buntelan. Tapi menjaga ekor tidak terkena lawan.

Wah jerit-jerit deh penonton semuanya, ketika lonceng permainan itu dibunyikan di lapangan. Pasalnya dalam satu arena terdiri dari 3-4 naga-nagaan. Mereka saling berlari, berkejaran dan mematahkan lawan. Sampai hasilnya, tim Bangka Belitung memperoleh nilai seri dengan lawan.

Permainan lainnya yang tidak kalah istimewa sekaligus menggelikan adalah permainan Estafet Bahenol. Bryan, si adik kecil sangat menggemaskan dan membuat kak Arend tertawa lepas. Karena permen yang ada di baskom bercampur kopi malah ditelannya. Dan menurut Kak Sisil, mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat tim tidak memperoleh poin.

Semua aktifitas yang dikemas padat itu pun tidak membuat fisik adik dan kakak lemah. Malahan ketika malam pentas kreasi digelar, berjoget dan bernyanyi bersama dengan riangnya. Gerakan poco-poco pun tumpah di rumput Bumi Perkemahan Cibubur. Ya, rumput itu terus tertawa selama kami menari bersama. (Tata Silaban)

LAPANGAN berumput itu sepertinya ikut tertawa. Ketika puluhan adik asuh berlari kencang menuju tenda hijau di tepi lapangan. Mereka riang; karena baru saja Slamet, Lina dan Alsa  memberikan kemenangan dalam lomba bakiak—sandal kayu berukuran panjang–, di Jambore Sahabat Anak, Minggu sore 19 Juli 2009.

Tidak dinyana, ketiga adik berawak mungil telah mengalahkan lawan yang berbadan besar dan berlangkah panjang. Hanya karena lawan kurang cermat; yang lebih dulu meninggalkan arena tanding sebelum menyentuh garis finish. Lantas disusul Slamet dan kawan-kawan dengan langkah pasti, meski sempat jatuh sekali, menuju garis finish.

1-small

”Ayo kita tos,” ajak Kak Daniel spontan dengan lantangnya, usai pertandingan itu. Adik serta kakak asuh pun membentuk lingkaran dan menyatukan jemari tangan seraya berteriak bangga ”Bangka Belitung”! Ini adalah nama tim adik asuh asal Panglima Polim, dalam Jambore di Cibubur, Bogor.

Kegembiraan itu mirip salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi.. Ketika anak-anak didik Bu Mus menang dalam lomba karnaval dan memperoleh piala, untuk kemudian dipajang di lemari kelas yang pintunya harus diganjal kertas baru tertutup rapat. Senyum dan tawa para laskar itu tulus, persis sama dengan adik asuh Panglima Polim.

Tawa mereka pun tetap renyah di tengah teriknya matahari pagi menjelang siang (20/7). Saat itu mereka mengikuti pertandingan Kuis Tanah Airku (KUTU). Di babak semifinal, adik-adik tidak saling menyalahkan malahan mentertawakan kesalahan mereka. Berbeda dengan kelompok lainnya yang terlihat beradu mulut. Lagi-lagi mereka riang, ketika diumumkan tim Bangka Belitung gagal masuk babak final.

Mungkin bisa jadi benar, apa yang dikatakan Kak Nadine, bahwa adik-adik ikut bertanding hanya untuk bermain. Kalah dan menang tidak menjadi prioritas. Tapi semangat, kerjasama, kekompakan tetap menjadi kunci untuk mengikuti setiap kompetisi.

Bisa jadi pula, sikap manis mereka ini yang menarik perhatian wartawan DAAI TV untuk mewawancarai setelah kuis berakhir. Salah satunya, Ary Febri yang terlihat lincah dalam setiap pertandingan termasuk di Olimpiade Sahabat Anak (Olisa).  Ia diwawancarai tentang alasannya mengikuti Jambore ini. Yang rencananya ditayangkan di Program Mata Hati.

Dan usut punya usut, ternyata lebih dari tiga anak diwawancarai termasuk Lina dan Wanto. Wah kalau gitu, makasih ya mba..:) Mudah-mudahan, adik-adik bisa menjadi inspirasi buat pemirsa DAAI TV

2-small

Meski begitu, kemenangan kepingin banget diraih. Maka ketika bazaar dimulai, Kak Sisil dan adik-adik bersiap-siap menggelar lapak di depan tenda. Barang dagangan berupa gelang-gelang, kalung dan penjempit notes/foto siap dijual. ”Ayo beli.., beli… Karya kami … Bangka Belitung,” dinyanyikan adik dan kakak (termasuk Kak Carmen dari Sahabat Anak) dengan iringan kaleng kue dan botol aqua.

Di bazaar ini, Kak Martha pun memutar otak agar penjepit notes yang masih banyak terpajang laku terjual. Cukup dengan memajangkan foto keluarga Silaban berukuran 2 R, di penjepit foto.. mantaplah sudah bagi pengunjung untuk tahu manfaat benda unik yang terbuat dari resin dan kawat itu. ”Beli bu, pa, kak, dek.. Yang beli dapat berkah, yang jual dapat untung,” kata Kak Martha dengan kacamata hitamnya.

Kerja keras pun membuahkan hasil. Kak Sisil tersenyum puas, ketika seluruh dagangan laku terjual. Total Rp 570 ribu. Puji Tuhan! Dan tim Bangka Belitung meraih juara III untuk lomba bazaar ini. Lagi-lagi, rumput itu tertawa ketika adik-adik berlarian menuju tengah lapangan untuk membawa hadiah pulang ke Panglima Polim. Puji Tuhan..(Tata Silaban)

3-small

4-small


1MATA Aisah tertuju pada uang pecahan yang tergeletak di depannya. Tangan mungilnya dengan gesit meraih uang kertas Rp 5000, sesaat kak Ambar usai membacakan pertanyaan kuis. Ia berlari kencang dan memberikan uang itu pada Kak Vanie yang berada sekitar tiga meter di hadapannya.

Dan horee….. Aisah yang mengenakan baju pink itu berhasil membawa timnya menjadi juara pertama dalam perlombaan di Museum Bank Mandiri, Sabtu 11 Juli lalu. Bersama tim kakak asuh GKI Panglima Polim, adik-adik berwisata ke museum: Bank Indonesia dan Bank Mandiri, di kawasan Kota, Jakarta.

Kedua museum itu dipilih untuk menikmati masa liburan sekolah memasuki tahun ajaran baru 2009. Adik-adik yang mengikuti acara ini adalah mereka yang rajin mengikuti les setiap Sabtu di ruang Tesalonika, GKI Panglima Polim. Selain itu, mereka adalah anak-anak yang pada 19-20 Juli tidak mengikuti Jambore Sahabat Anak di Cibubur.

Perjalanan wisata yang dikomandani Kak Ben ini, dimulai dari pukul 08.00 ke museum Bank Indonesia. Adik-adik disuguhi tayangan film kartun tentang Buah Apel dan Anak Kecil. Film yang diputar sekitar 20 menit ini mengisahkan transaksi atau jual beli dalam suasana jalan-jalan.

Disusul kemudian dengan melihat-lihat benda sejarah perbankan di Indonesia. Benda-benda seperti mesin tik, stempel, dan lukisan bangunan bank Indonesia jaman dahulu. Lalu games tentang film yang dipimpin Kak Ambar, dan permainan Bisik-bisik. Sedangkan anak remaja atau SMK mencatat peristiwa sejarah dan diberikan pertanyaan.

Dua jam berselang, adik-adik menikmati bakpau hangat dan segelas air putih di pelataran museum Bank Indonesia. Beberapa di antara mereka membuka kotak bekel: berisi mie goreng. Slurppp sedapnya.. Diselingi dengan foto-foto bersama kakak asuh. Pose dan senyum menyatu dalam kamera.

2

Udah segar deh… Adik-adik beranjak ke museum Bank Mandiri yang letaknya bersebelahan dengan gedung museum Bank Indonesia. Mereka kembali disuguhi dengan film. Kali ini lebih spesifik, karena berkaitan dengan sejarah bank swasta itu yang merupakan gabungan dari empat bank: Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim dan Bapindo. Keempatnya bergabung karena krisis moneter pada tahun 1998.

Di tempat ini, suasananya tidak kalah menarik. Bangunannya eksotis: pilar-pilar kokoh, kaca pirek warna warni yang menyusun tentang empat musim, lantai yang terbuat dari cetak keramik masa lampau, serta puluhan gantungan lampu bundar yang dipasang dengan bohlam kuning. Tempoe doeloe nan klasik.

Mungkin juga karena alasan itu, pasangan yang akan menikah datang ke museum ini untuk foto pre wedding. Kakak asuh pun ehm tak kalah mati gaya untuk memanfaatkan jalan-jalan ini. Sesi foto berlangsung di sudut-sudut ruangan …  Jepret mas, mbak! Sini loh kak, lae, eda…. tempatnya keren! Pre wed ya?? Halah!!!!

4Siang menjelang, saatnya bagi adik-adik menikmati santapan ayam crispy dari Kentucky Fried Chicken. ”Cuci tangan dulu,” kata Kak Ata dan Kak Dwi yang memandu acara. Bergiliran tiga orang, adik-adik membersihkan tangannya ditemani kakak asuh. Setelah berdoa, mereka makan dengan lahap. Terima kasih Tuhan…

Tenaga adik-adik kembali ke angka 100 persen. Siap untuk bertanding. Kalah dan menang adalah realita dalam kehidupan. Adik-adik asuh diajar melalui perlombaan, untuk berkompetisi sekaligus memahami bahwa kemenangan diperoleh dengan usaha. Sebaliknya kegagalan berarti pintu menuju keberhasilan.

Akhirnya, adik-adik pun boleh pulang membawa oleh-oleh hadiah dan makanan ringan. Air muka mereka memancarkan kegembiraan ketika ketika turun dari bus  di Taman Panglima Polim. Sayonara, sampai jumpa lagi di karyawisata selanjutnya.. (Tata Silaban)

5

Hamidah menerima Piagam Penghargaan atas prestasinya sebagai peserta terbaik Kompetisi Matematika. Piagam diserahkan oleh PIC Kompetisi yaitu kak Ian.

Hamidah menerima Piagam Penghargaan atas prestasinya sebagai peserta terbaik Kompetisi Matematika. Piagam diserahkan oleh PIC Kompetisi yaitu kak Ian.

PJ Kelas 4 yaitu kak Andre menyerahkan apresiasi kakak asuh kepada Hamidah berupa sepasang sepatu sekolah.

PJ Kelas 4 yaitu kak Andre menyerahkan apresiasi kakak asuh kepada Hamidah berupa sepasang sepatu sekolah.

Adik-adik berkumpul setelah belajar bersama terakhir di tahun 2008 menyaksikan penyerahan apresiasi kepada yang berprestasi. Ayo semuanya... tahun depan harus lebih baik lagi (",)

Adik-adik berkumpul setelah belajar bersama terakhir di tahun 2008 menyaksikan penyerahan apresiasi kepada yang berprestasi. Ayo semuanya... tahun depan harus lebih baik lagi (",)

Kompetisi Matematika 08

Kompetisi Matematik 08 (2)

Kompetisi Matematika (03)

Adik-adik kadang membuat kejutan-kejutan yang mencengangkan. Siapa sangka peserta terbaik kompetisi matematika perdana ini adalah Hamidah yang sudah dua kali tidak naik kelas dan si Wanto yang dulu membuat kakak-kakak pangling karena terlambat bisa membaca dan menulis menjadi salah satu yang gemilang di kompetisi ini. Hmmm.. harus semakin kreatif nih menciptakan situasi belajar yang menyenangkan.


Kompetisi Matematika ini adalah salah satu upaya yang digagas para kakak asuh untuk menyemangati adik-adik dalam belajar dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Cuma di Adik Asuh lho.. bisa belajar Matematika sambil lari estafet ^^.

Thanks God buat rekan-rekan kakak asuh yang oke banget dan emang punya hati memberi yang terbaik bagi pelayanan ini. Visit us at http://adikasuh.wordpress.com

Telinga dan jempol, apa hubungannya?
Lebih-lebih lagi, apa hubungannya dengan pelayanan Adik Asuh?
Jelas ada! Setidak-tidaknya sejak rapat Renstra sabtu kemaren (“,)

Seperti yang tertulis pada kolom Agenda Oktober pada sidebar blog ini, pada tanggal 18 Oktober kami mengadakan penyusunan Rencana Strategis Tim Pelayanan Adik Asuh. Ada banyak hal yang dibicarakan, salah satunya adalah mengenai nilai-nilai hidup. Nilai hidup pun ada banyak sekali, tetapi mulai sabtu kemarin sampai dengan November nanti ada hal sehubungan dengan nilai tersebut yang akan diaplikasikan dalam pelayanan ini. Tentu saja, pionernya harus para kakak asuh lebih dahulu yang bisa melakukannya karena kakak asuh adalah role model bagi adik-adik. Secara umum, nilai yang akan diaplikasikan ini adalah bagaimana menghargai sesama dan diwujudkan dalam dua hal dengan ikon telinga dan jempol (“,), yaitu:

‘ACTIVE’ LISTENING

Ini bukan sekedar nilai tetapi juga ‘keterampilan’. Jika orang lain, dalam hal ini adik-adik, diberikan ruang, waktu dan kesempatan untuk membagikan pemikirannya dan bagaimana ia berpikir, maka diharapkan ia merasa dipahami (bukan diadili), lebih peduli pada apa yang ia pikirkan serta hasil ataupun dampak dari hal tersebut (bukan masa bodoh), percaya diri untuk memiliki dan mengemukakan pendapat (bukan ketakutan tidak beralasan), dan mungkin dapat mengubah pandangan yang salah (tanpa takut disalahkan).

Tipsnya adalah:

  • berikan kesempatan untuk berbagi
  • perhatikan respons dirimu (baik verbal ataupun non-verbal)
  • ambil jeda untuk berefleksi, tawarkan masukan yang baik
  • pastikan bahwa kamu mendengar
  • berusahalah untuk tidak langsung melompat pada kesimpulan, memotong pembicaraan, menyelesaikan kalimat orang lain, memberikan solusi yang mengambang, mengalihkan dari topik yang tidak kamu suka, mendistraksi diskusi
  • tetap memastikan bahwa baik kamu dan lawan bicaramu sama-sama orang yang dikasihi Tuhan (“,)

Memang tidak mudah melakukannya. Mungkin itulah gunanya Tuhan memberikan dua telinga dan hanya satu mulut.

MEMBERI PUJIAN

Ketika kita menyadari betapa berharganya orang-orang yang Tuhan tempatkan disekeliling kita, maka kita juga akan dengan mudah menemukan banyak hal-hal baik dari orang itu. Sehingga ide memberikan pujian untuk hal-hal kecil ataupun hal-hal besar adalah sesuatu yang bisa dilakukan setiap orang. Tentu saja pujian itu harus sungguh-sungguh berasal dari hati yang tulus. Pujian yang tulus tidak membutuhkan biaya, tidak menyakitkan, tidak membuat kita kekurangan. Justru membangkitkan semangat, meyakinkan diri bahwa orang lain berharga, dan juga membangkitkan aspek positif dalam diri.

Di lingkungan adik-adik, bahasa pujian belum menjadi sesuatu yang familiar, lingkungan yang keras membuat mereka tidak terbiasa untuk memuji dan menerima pujian. Untuk itu, kakak-kakak yang terlebih dahulu akan memberikan mereka pujian karena kakak-kakak menemukan ada banyak kebaikan dalam diri adik-adik. Semoga kelak, merekapun dapat menemukan begitu banyak kebaikan di sekitar mereka dan dengan tulus menggantikan kata-kata keras menjadi pujian.

Siap menggunakan telinga dan jempol?

 

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

AGENDA JANUARI 2009

(03/01) Persiapan Kakak Asuh mulai semester 2 Tahun Ajaran 08/09; (10/01) Belajar bersama, sosialisasi absensi; (11/01) Pleno Pemuda; (15/01) Rapat RPA dgn Mabid Kespel; (17/01) Belajar bersama, sosialisasi RPP dan evaluasi rapor semester 1; (19/01) Rapat RPA dgn Tim RPA GKIKB; (24/01) Belajar bersama, sesuai RPP tiap kelas; (31/01) Persekutuan Kakak Asuh, "Buka Mata bagi Sesama"; Belajar bersama, sesuai RPP tiap kelas.

Blog Stats

  • 4,598 hits

Tim Adik Asuh di DW Awards (“,)