You are currently browsing the monthly archive for February 2012.

Suatu lokasi di Cipete Utara,Jakarta nama lokasi itu Damai, kita melewati gang sempit yang hanya cukup satu orang. Gang sempit itu hanya satu-satunya jalan ke sebuah rumah adik asuh. Sabtu, 4 Februari 2011, di sore hari.

foto oleh :Ben Parhusip (di salah satu tempat Cipete)                                                                               
 
Pada awalnya saya ragu mempublikasikan foto diatas, karena khawatir membuat seseorang merasa tersinggung atau tidak senang. Tapi perasaaan itu sementara waktu saya pura-pura tidak mengindahkan.

Foto yang diberi judul “Lorong Sempit”, yang diambil saat berkunjung kesalah satu rumah adik asuh yang telah lama tidak datang pada hari Sabtu untuk belajar bersama. Saya tidak mencoba menggambarkan betapa mereka kekurangan, saya hanya mencoba menyampaikan ada rasa  bahagia dikekurangan mereka.

Hanya ada satu jalan ke rumah adik asuh itu (sengaja tidak menyebut namanya), melalui gang sempit. Gang sempit yang cukup satu orang bisa lewat. Sebelum masuk ke daerah perumahan adik asuh, kira-kira 50 meter dari sana ada perumahan dan apartemen yang bagus. Sungguh 2 kondisi yang sangat berbeda jauh. Sampai saat itu tidak kepikiran bahwa di samping perumahan yang bagus(elite) ada rumah rumah yang jauh dari kategori nyaman dan sehat menurut ukuran manusia. Apa mereka (keluarga adik asuh) bahagia dengan kondisi itu? Suatu pertanyaan di benak saya ketika berkunjung. Semua manusia pada umumnya ingin hidup nyaman, hidup sehat, punya rumah yang bagus.Tapi tidak semua manusia punya kesempatan menikmatinya menurut standard yang ditetapkan manusia itu sendiri. Kalau tidak semua punya kesempatan, mereka tidak termasuk kategori manusia yang bisa berbahagia donk?  Saya percaya mereka menemukan sesuatu kebahagiaan di tengah kekurangan mereka. Karena saya yakin mereka bisa bersyukur atas “kekurangan” mereka. Rasa bersyukur, rasa membatasi keinginan sesuatu yang tidak dapat dicapai karena sesuatu keterbatasan, sehingga batasan kepuasan dibatasi dengan sendiri. Ah…sangat susah merumuskan kebahagian yang universal.

Sabtu, 08 Feb 2012, adik itu datang lagi belajar bersama. Setelah selesai mengajar  seorang kakak bercerita tentang adik itu saat proses belajar-mengajar(waktu sharing setelah selesai process belajar-mengajar). Kakak itu mengatakan merasa senang adik itu kembali belajar lagi, adik itu mencurahkan isi hatinya sama kakak itu (curhat), dan adik itu merasa senang bisa menceritakan ada apa dengan kehidupannya saat itu. Dari sini, saya ambil kesimpulan bahwa dia bahagia, walaupun dalam kondisi yang saya deskripsikan diatas. Entah apapun itu yang buat dia bahagia, pasti ada senyum disana.

Ada 2 orang bahagia disaat cerita mereka berdua(adik dan kakak itu), si adik bahagia akhirnya menemukan tempat cerita, satu lagi si kakak bahagia adiknya datang kembali. Entah apa yang terjadi pada kakak itu, tapi saya melihat dia merasa senang menceritakan sesi “curhat”mereka saat proses belajar mengajar. Meskipun saya belum dapat merasakan/mengerti kenapa kakak itu merasa senang, apa yang terjadi dalam hatinya ketika mendengar seorang adik “curhat” kepadanya, saya berkesimpulan dia bahagia.

2 orang bahagia dalam suatu kondisi kemungkinan tidak ada kebahagiaan.

Hmmm…..rata-rata 60 orang adik asuh hadir setiap hari Sabtu dalam  ruangan kira 8m x 10m, suatu ruangan sempit untuk jumlah sebanyak itu dan rentang umur yang berbeda-beda. Mulai dari umur 3 tahun (kategori TK) sampai umur 17 tahun (SMA/SMK). Kondisi yang membuat tidak nyaman dalam proses belajar mengajar. Punya 1 jam 45 menit waktu untuk  mengajarkan sesuatu. Waktu yang sempit, kalau di perkuliahan hanya 2 SKS saja.

Apakah mereka (adik asuh) bahagia dengan kondisi itu(belajar)? Dimana kebahagiaan itu bisa mereka bawah ke rumah mereka yang melalui lorong sempit?

Saya hanya menjawab atas pertanyaan itu dengan kalimat” Lebih baik kita berbahagia dulu mengajar mereka dalam kondisi ruangan sempit dan waktu sempit, dalam kekurangan kita sebagai makhluk individu, dalam keterbatasan kita cara mengajar yang baik, karena kebanyakan dari kita bukan guru, tapi pengalaman kita bisa jadi guru bagi adik kita”,

………………………………………………

Biar jalan itu sempit, kita jalan satu persatu dengan selamat!!!

Selamat Malam Semua

Ben Parhusip

28 Februari 2012

HARI PERTAMA

Jumat , 3 Februari 2012

Dalam perjalanan menuju Purwokerto, Kabupaten Banyumas, kami menggunakan kereta Purworejo Eksekutif, pukul 06.30. Saya bersama Bapak Prass ( Ketua Mabid Kespel ) , Bapak Kispriyadi ( Komisi Pekabaran Injil ) , Ditra (Komisi Pemuda Seksi Gelam ) dan Vanny ( rekan Tim Adik Asuh). Kami tiba di Stasiun Kereta Api Purwokerto pukul 12.00 siang, dan langsung dijemput bapak Faizal dengan mobil L 300. Siang itu, kami sempatkan dulu bersantap makan khas Sunda di Restoran Kabayan. Asyik juga ada makanan Sunda di sini.

Di perjalanan menuju Purwokerto

Tim sedang menuju Purwokerto

Kemudian kami menuju salah satu basecamp teman- teman tim Argowilis –sebuah pusat kegiatan belajar– yaitu Rumah Baca Si Mbah. Di tempat ini kami berjumpa dengan Pak Winarto (Mabid Persib) dan Pak Isworo ( majelis ), yang telah lebih dulu tiba. Di sini pun kami berkenalan dengan Danar, mahasiswa UNJ Jogjakarta yang sengaja datang untuk membantu di social work camp. Menurut Danar, dia tertarik datang ke tempat itu setelah melihat di Facebook.

Sekitar pukul 15.00, kami semua melanjutkan perjalanan ke Yayasan Argowilis, yang diketuai Bapak Abib. Yayasan yang terletak di Desa Sukawera , Cilongok ini adalah pusat kegiatan belajar masyarakat yang mengajari beberapa pelajaran seperti pendidikan keaksaraan , pendidikan kesetaraan , pendidikan ketrampilan dan pemberdayaan perempuan. Dan juga mengajari Paket A dan Paket B.

Yayasan Argowilis

Yayasan Argowilis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan

Pukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan kami ke Dusun Pesawahan , Kabupaten Banyumas , Purwokerto. Kami kesana mengunakan mobil pick up terbuka, karena kondisi jalan yang berbatu-batu terjal, sekitar 10 menit. Mobil off road atau motor juga dapat digunakan untuk menempuh jalan itu. Menurut saya, perjalanan ini sangat menyenangkan, ekstrim sekaligus menyeramkan. Ditambah lagi di tengah jalan, kami semua kehujanan.

Tersenyum di Purwokerto

Tersenyum di Purwokerto

Namun setibanya di rumah Pak Seno, tempat menginap, kami diajak jalan-jalan untuk melihat pusat aliran listrik dan aliran air bersih. Indahnya.. Setelah bersantap malam, mulailah acara pertama kami di dusun. Kami berkumpul bersama masyarakat Pesawahan, untuk perkenalan dan menyampaikan tujuan kami datang ke desa mereka. Acara ini dibuka oleh Ketua Yayasan Argowilis, Bapak Abib.

Sebagai gambaran, Dusun Pesawahan, Kelurahan Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas adalah desa pinggir hutan yang terisolir akibat jalan berliku dan tanjakan terjal berbatu-batu menuju dusun itu. Di tempat ini tidak ada angkutan umum. Jumlah penduduk sekitar 500 jiwa atau sebanyak 123 Kepala Keluarga.

berkumpul bersama warga Dusun Pesawahan

berkumpul bersama warga Dusun Pesawahan

Belum ada sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Puskesmas. Warga lulusan Sekolah Menengah Atas cuma 1 orang, itu pun pendatang. Yang pernah sekolah sampai Sekolah Menengah Pertama tidak tamat sebanyak 4 orang. Pernah menempuh Sekolah Dasar (SD) tidak tamat dapat dihitung dengan jari. Selebihnya, buta aksara (Buta Huruf).

Sekolah SD terdekat berada di desa tetangga yang harus ditempuh lewat hutan dengan berjalan kaki selama 1 jam. Kepada masyarakat, Bapak Abib menjelaskan tujuan kedatangan kami untuk membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Tapi setelah saya berinteraksi dengan warga, anak-anak mereka juga membutuhkan mainan.

HARI KEDUA

Sabtu, 4 Februari 2012

Sejak pagi, kami sudah bersiap untuk melakukan kegiatan, yakni membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, dan menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Namun sebelum menuju telaga kami sarapan pagi terlebih dahulu.

Kami berbagi tugas. Om Pras dan kawan-kawan bersama warga Pesawahan menuju Telaga Kumpe. Hal pertama yang mereka kerjaan adalah kerja bakti untuk membangun kerangka sanggar belajar dari kayu jati dan sekalian menebar bibit ikan dan menanam buah-buahan di sekitar tempat dibangunnya sekolah sanggar belajar.

Sedangkan saya, Kak Vanny dan Kak Danar mulai mengajar adik-adik usia dini dan adik-adik SD, pada pukul 10.00. Selain itu, kami dibantu oleh adik-adik dari Yayasan Argowilis, karena sebagian besar adik-adik Dusun Pesawahan tidak bisa bahasa Indonesia. Mereka memakai bahasa Jawa.

Saat itu, jumlah anak TK sekitar 40 orang dan adik-adik SD sebanyak 3 orang karena sebagian besar dari mereka pergi sekolah. Saya mengajar kelas TK, sedangkan murid SD diajar oleh Kak Vanny dan adik Eva dari tim Argowilis. Di kelas TK saya mengajari menyanyi dan mewarnai. Sedangkan di kelas SD, adik-adik belajar matematika dan belajar membaca . Kelas kami akhiri pukul 12.00.

Setelah kegiatan belajar-mengajar, kami membereskan dan memisahkan buku-buku berdasarkan kategori umur dan sekolah. Lalu kegiatan kami lanjutkan dengan meresmikan Rumah Baca, di rumah Pak Seno. Secara simbolis, kami juga memberikan pakaian kepada salah satu warga.

Perpustakaan

Meresmikan rumah baca bagi adik-adik

Kemudian, acara “social work camp” ditutup di Telaga Kampe. Penutupan acara berlangsung meriah, karena ada ‘dangdutan’ dari artis Purwokerto. Saya, Kak Vanny dan Om Pras juga menyumbang lagu. Semula panitia merencakan ada api unggun, tapi bubar deh karena hujan turun dengan derasnya. Semua warga berlarian menuju rumah masing-masing. Kami pun bergegas ke rumah Pak Seno.

Sebelum pulang, Kak Vanny sempat mencoba naik kapal di telaga itu. Malam harinya sekitar pukul 22.00, kami pulang menuju Jakarta naik mobil Pak Winarto. Dan tiba pada Minggu, 5 Februari 2012, sekitar pukul 08.00.

Bagi saya, “social workcamp” ini tidak akan terlupakan. Karena acara ini juga menyadarkan kita semua , kalau masih banyak masyarakat desa sangat membutuhkan pertolongan kita dari pelajaran sampai kebutuhan sehari-hari, khususnya anak-anak usia dini dan sekolah dasar. Ayo dari sekarang kita harus peduli dengan masyarakat terpencil!

warga Dusun Pesawahan dan Tim

warga Dusun Pesawahan dan Tim Social Work Camp

Terima kasih Tuhan Yesus, Tim Adik Asuh dan majelis yang sudah mempercayakan saya dan Kak Vanny melayani di Dusun Pesawahan. Semoga ada pelayanan seperti ini, supaya kita juga belajar berbagi kasih sayang yang sudah diajarkan Tuhan.

(Dwira Sekarkinasih)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.