You are currently browsing the category archive for the 'ARTICLE' category.
“..Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
Cinta kita di dunia, selamanya..”
Potongan lirik Laskar Pelangi ini berulang-ulang dinyanyikan adik asuh Panglima Polim dalam Jambore Sahabat Anak di Cibubur, 19-20 Juli lalu. Dipilih sebagai yel-yel, boleh jadi lagu ini yang kemudian menjadikan adik-adik so sweet, selama acara berlangsung.
Di sesi Karya Nusantara, yel-yel itu wajib hukumnya dinyanyikan. Karya Nusantara adalah rangkaian acara yang menyajikan berbagai kreativitas: membuat pajangan kertas, membuat batik, kerajinan pembatas buku dan mote, kerajinan lampion dan mainan anak, serta mengenal alat musik tradisional.
Setiap kali adik-adik pindah area untuk belajar kreasi, panitia meminta mereka untuk menampilkan yel-yel. ”Wah, so sweet,” komentar salah satu kakak panitia mbatik, usai tim Bangka Belitung menampilkan yel-yelnya di hadapan mereka dan peserta lainnya. Wah Kak Nia sang koreografer pun bangga disebut so sweet ya..
Kenyataannya mereka memang manis dan bersikap sopan sepanjang acara. Ke 26 adik yang ikut Jambore ini terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi di rangkaian Karya Nusantara. Secara bergantian maju ke depan dan membuat karya. Atau beramai-ramai mengerjakan perintah/permintaan panitia kreasi anak.

Salah satu adik, Andre, terlihat bersemangat ketika membuat pembatas buku. Ia menyimak petunjuk dari salah satu kakak panitia berkaos kuning yang cantik. Dan Andre kemudian tersenyum bangga ketika pembatas buku bergambar orang yang mengenakan peci dan batik itu telah selesai dibuatnya. Hmmm…

Tapi bukan hanya di sesi kreativitas saja, adik-adik ceria dan aktif. Di sesi olimpiade sahabat anak pun (Olisa I dan II), mereka sportif. Seperti sudah sepenggal diceritakan di Tertawa di Rumput hijau bagian I. Kisah lainnya, bahwa biarpun kekalahan demi kekalahan datang beruntun, tapi semangat tanding tak pernah luntur.
Saat pertandingan tarik tambang, mereka yang terdiri atas Ari F, Ipung, Mila, Salamah, Andre dan Nita harus bertanding dengan adik-adik dari tim lawan yang berbadan besar. Perjuangan mereka patut diacungi jempol, karena hasilnya 2-1. Meski kalah, tapi setidaknya Kak Arend yang memandu mereka boleh bangga. ”Mereka sampai sempat tarik rumput untuk tahan tambang,” kata Kak Arend.

Yang tidak kalah menegangkan, ketika pertandingan yang melibatkan dua kakak asuh. Kak Q Boy dan Kak Daniel (rekan dari Sahabat Anak), harus bertarung dalam permainan ’Buntelan Semar’—mirip main naga-nagaan. Yakni adik dan kaka berbaris berpegangan tangan satu sama lain.
Kak Q Boy yang berada di baris depan—sebagai kepala naga, matanya dibuat tertutup sehelai kain, sedangkan Kak Daniel menjadi ekor dari barisan itu. Sedangkan adik-adik berada di antara kedua kakak. Nah agar lawan mati, kepala naga harus memukul atau melemparkan buntelan. Tapi menjaga ekor tidak terkena lawan.
Wah jerit-jerit deh penonton semuanya, ketika lonceng permainan itu dibunyikan di lapangan. Pasalnya dalam satu arena terdiri dari 3-4 naga-nagaan. Mereka saling berlari, berkejaran dan mematahkan lawan. Sampai hasilnya, tim Bangka Belitung memperoleh nilai seri dengan lawan.
Permainan lainnya yang tidak kalah istimewa sekaligus menggelikan adalah permainan Estafet Bahenol. Bryan, si adik kecil sangat menggemaskan dan membuat kak Arend tertawa lepas. Karena permen yang ada di baskom bercampur kopi malah ditelannya. Dan menurut Kak Sisil, mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat tim tidak memperoleh poin.
Semua aktifitas yang dikemas padat itu pun tidak membuat fisik adik dan kakak lemah. Malahan ketika malam pentas kreasi digelar, berjoget dan bernyanyi bersama dengan riangnya. Gerakan poco-poco pun tumpah di rumput Bumi Perkemahan Cibubur. Ya, rumput itu terus tertawa selama kami menari bersama. (Tata Silaban)
LAPANGAN berumput itu sepertinya ikut tertawa. Ketika puluhan adik asuh berlari kencang menuju tenda hijau di tepi lapangan. Mereka riang; karena baru saja Slamet, Lina dan Alsa memberikan kemenangan dalam lomba bakiak—sandal kayu berukuran panjang–, di Jambore Sahabat Anak, Minggu sore 19 Juli 2009.
Tidak dinyana, ketiga adik berawak mungil telah mengalahkan lawan yang berbadan besar dan berlangkah panjang. Hanya karena lawan kurang cermat; yang lebih dulu meninggalkan arena tanding sebelum menyentuh garis finish. Lantas disusul Slamet dan kawan-kawan dengan langkah pasti, meski sempat jatuh sekali, menuju garis finish.

”Ayo kita tos,” ajak Kak Daniel spontan dengan lantangnya, usai pertandingan itu. Adik serta kakak asuh pun membentuk lingkaran dan menyatukan jemari tangan seraya berteriak bangga ”Bangka Belitung”! Ini adalah nama tim adik asuh asal Panglima Polim, dalam Jambore di Cibubur, Bogor.
Kegembiraan itu mirip salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi.. Ketika anak-anak didik Bu Mus menang dalam lomba karnaval dan memperoleh piala, untuk kemudian dipajang di lemari kelas yang pintunya harus diganjal kertas baru tertutup rapat. Senyum dan tawa para laskar itu tulus, persis sama dengan adik asuh Panglima Polim.
Tawa mereka pun tetap renyah di tengah teriknya matahari pagi menjelang siang (20/7). Saat itu mereka mengikuti pertandingan Kuis Tanah Airku (KUTU). Di babak semifinal, adik-adik tidak saling menyalahkan malahan mentertawakan kesalahan mereka. Berbeda dengan kelompok lainnya yang terlihat beradu mulut. Lagi-lagi mereka riang, ketika diumumkan tim Bangka Belitung gagal masuk babak final.
Mungkin bisa jadi benar, apa yang dikatakan Kak Nadine, bahwa adik-adik ikut bertanding hanya untuk bermain. Kalah dan menang tidak menjadi prioritas. Tapi semangat, kerjasama, kekompakan tetap menjadi kunci untuk mengikuti setiap kompetisi.
Bisa jadi pula, sikap manis mereka ini yang menarik perhatian wartawan DAAI TV untuk mewawancarai setelah kuis berakhir. Salah satunya, Ary Febri yang terlihat lincah dalam setiap pertandingan termasuk di Olimpiade Sahabat Anak (Olisa). Ia diwawancarai tentang alasannya mengikuti Jambore ini. Yang rencananya ditayangkan di Program Mata Hati.
Dan usut punya usut, ternyata lebih dari tiga anak diwawancarai termasuk Lina dan Wanto. Wah kalau gitu, makasih ya mba..:) Mudah-mudahan, adik-adik bisa menjadi inspirasi buat pemirsa DAAI TV

Meski begitu, kemenangan kepingin banget diraih. Maka ketika bazaar dimulai, Kak Sisil dan adik-adik bersiap-siap menggelar lapak di depan tenda. Barang dagangan berupa gelang-gelang, kalung dan penjempit notes/foto siap dijual. ”Ayo beli.., beli… Karya kami … Bangka Belitung,” dinyanyikan adik dan kakak (termasuk Kak Carmen dari Sahabat Anak) dengan iringan kaleng kue dan botol aqua.
Di bazaar ini, Kak Martha pun memutar otak agar penjepit notes yang masih banyak terpajang laku terjual. Cukup dengan memajangkan foto keluarga Silaban berukuran 2 R, di penjepit foto.. mantaplah sudah bagi pengunjung untuk tahu manfaat benda unik yang terbuat dari resin dan kawat itu. ”Beli bu, pa, kak, dek.. Yang beli dapat berkah, yang jual dapat untung,” kata Kak Martha dengan kacamata hitamnya.
Kerja keras pun membuahkan hasil. Kak Sisil tersenyum puas, ketika seluruh dagangan laku terjual. Total Rp 570 ribu. Puji Tuhan! Dan tim Bangka Belitung meraih juara III untuk lomba bazaar ini. Lagi-lagi, rumput itu tertawa ketika adik-adik berlarian menuju tengah lapangan untuk membawa hadiah pulang ke Panglima Polim. Puji Tuhan..(Tata Silaban)



Hamidah menerima Piagam Penghargaan atas prestasinya sebagai peserta terbaik Kompetisi Matematika. Piagam diserahkan oleh PIC Kompetisi yaitu kak Ian.

PJ Kelas 4 yaitu kak Andre menyerahkan apresiasi kakak asuh kepada Hamidah berupa sepasang sepatu sekolah.

Adik-adik berkumpul setelah belajar bersama terakhir di tahun 2008 menyaksikan penyerahan apresiasi kepada yang berprestasi. Ayo semuanya... tahun depan harus lebih baik lagi (",)
Telinga dan jempol, apa hubungannya?
Lebih-lebih lagi, apa hubungannya dengan pelayanan Adik Asuh?
Jelas ada! Setidak-tidaknya sejak rapat Renstra sabtu kemaren (“,)
–
Seperti yang tertulis pada kolom Agenda Oktober pada sidebar blog ini, pada tanggal 18 Oktober kami mengadakan penyusunan Rencana Strategis Tim Pelayanan Adik Asuh. Ada banyak hal yang dibicarakan, salah satunya adalah mengenai nilai-nilai hidup. Nilai hidup pun ada banyak sekali, tetapi mulai sabtu kemarin sampai dengan November nanti ada hal sehubungan dengan nilai tersebut yang akan diaplikasikan dalam pelayanan ini. Tentu saja, pionernya harus para kakak asuh lebih dahulu yang bisa melakukannya karena kakak asuh adalah role model bagi adik-adik. Secara umum, nilai yang akan diaplikasikan ini adalah bagaimana menghargai sesama dan diwujudkan dalam dua hal dengan ikon telinga dan jempol (“,), yaitu:
‘ACTIVE’ LISTENING
Ini bukan sekedar nilai tetapi juga ‘keterampilan’. Jika orang lain, dalam hal ini adik-adik, diberikan ruang, waktu dan kesempatan untuk membagikan pemikirannya dan bagaimana ia berpikir, maka diharapkan ia merasa dipahami (bukan diadili), lebih peduli pada apa yang ia pikirkan serta hasil ataupun dampak dari hal tersebut (bukan masa bodoh), percaya diri untuk memiliki dan mengemukakan pendapat (bukan ketakutan tidak beralasan), dan mungkin dapat mengubah pandangan yang salah (tanpa takut disalahkan).
Tipsnya adalah:
- berikan kesempatan untuk berbagi
- perhatikan respons dirimu (baik verbal ataupun non-verbal)
- ambil jeda untuk berefleksi, tawarkan masukan yang baik
- pastikan bahwa kamu mendengar
- berusahalah untuk tidak langsung melompat pada kesimpulan, memotong pembicaraan, menyelesaikan kalimat orang lain, memberikan solusi yang mengambang, mengalihkan dari topik yang tidak kamu suka, mendistraksi diskusi
- tetap memastikan bahwa baik kamu dan lawan bicaramu sama-sama orang yang dikasihi Tuhan (“,)
Memang tidak mudah melakukannya. Mungkin itulah gunanya Tuhan memberikan dua telinga dan hanya satu mulut.
MEMBERI PUJIAN
Ketika kita menyadari betapa berharganya orang-orang yang Tuhan tempatkan disekeliling kita, maka kita juga akan dengan mudah menemukan banyak hal-hal baik dari orang itu. Sehingga ide memberikan pujian untuk hal-hal kecil ataupun hal-hal besar adalah sesuatu yang bisa dilakukan setiap orang. Tentu saja pujian itu harus sungguh-sungguh berasal dari hati yang tulus. Pujian yang tulus tidak membutuhkan biaya, tidak menyakitkan, tidak membuat kita kekurangan. Justru membangkitkan semangat, meyakinkan diri bahwa orang lain berharga, dan juga membangkitkan aspek positif dalam diri.
Di lingkungan adik-adik, bahasa pujian belum menjadi sesuatu yang familiar, lingkungan yang keras membuat mereka tidak terbiasa untuk memuji dan menerima pujian. Untuk itu, kakak-kakak yang terlebih dahulu akan memberikan mereka pujian karena kakak-kakak menemukan ada banyak kebaikan dalam diri adik-adik. Semoga kelak, merekapun dapat menemukan begitu banyak kebaikan di sekitar mereka dan dengan tulus menggantikan kata-kata keras menjadi pujian.
Siap menggunakan telinga dan jempol?
Beberapa waktu terakhir ini, saya sering ke sekolah adik-adik untuk mengurusi berbagai keperluan mereka sekaligus memonitor aktivitas mereka di sekolah. Biasanya yang mendapat perhatian ekstra adalah adik-adik SMP dan SMK karena kebutuhan mereka banyak sekali. Terkadang secara khusus saya menyempatkan diri bertemu mereka langsung setelah berbincang-bincang dengan gurunya. Seperti beberapa hari yang lalu…
Saya sedang ke sebuah SMK di daerah Jakarta Selatan, beberapa adik kami bersekolah di situ. Seiring waktu, adik-adik tersebut sudah tumbuh tinggi dan besar. Waktu saya selesai membayarkan SPP mereka, jam sekolah juga usai dan murid-murid mulai bubar. Saya menemui adik-adik di gerbang sekolah dan mengambil waktu mengkomunikasikan keluhan-keluhan pihak sekolah dan menanyakan masalah adik-adik di sekolah. Kebetulan salah satu adik bolos selama beberapa hari. Selidik punya selidik, ternyata adik tersebut tidak masuk karena tidak punya uang transport dan juga jengah karena ada beberapa tagihan yang belum dibayarkan ke sekolah.
Walaupun kami berbincang tidak lama, tetapi ternyata kehadiran saya hari itu sempat menyita perhatian siswa-siswa lain yang juga baru keluar sekolah. Dan saat saya pamit untuk pulang lebih dulu, saya masih sempat mendengar mereka bertanya kepada adik-adik, “itu siapa?”, dan sambil tersenyum adik-adik dengan spontan menjawab penuh semangat.. “kakakku…!”
Saya tertawa dalam hati mendengar jawaban tersebut apalagi melihat tampang tidak percaya mereka yang menerima jawaban tadi. Jelas sekali wajah Indonesia timur saya tidak mendukung untuk dikira sebagai kakak kandung dari adik-adik. Tetapi saya juga merasa sangat terharu karena mereka menerima saya dan sudah tentu para kakak asuh yang lainnya sebagai saudara dan kakak yang dibanggakan.
“Jadi itu kakakmu?”
“Iya.. kakakku!”
Pipit, Murni dan Hamidah tinggal di tiga lapak yang berbeda. Masing-masing di daerah Radio Dalam, Kober Pangeran Antasari dan Damai Cipete. Karakter mereka pun berbeda. Pipit anak yang cerdas, pandai mengaji tetapi moody dan mudah cemberut. Murni, gadis kecil pendiam yang mulai tumbuh jiwa pemberontakannya seiring dengan kurangnya perhatian dari keluarga dan juga teman-teman yang kurang bersahabat. Sedangkan Hamidah, ia selalu ceria di segala suasana dan jenis orang yang sangat loyal serta begitu perhatian kepada kakak asuh. Begitu banyak adik dan begitu banyak karakter. Tetapi yang pasti mereka sama seperti anak-anak pada umumnya, memiliki hak untuk mengalami masa kanak-kanak yang penuh canda dan tawa, mengalami perasaan dicintai sebagai seorang anak.
Begitu banyak anak yang tumbuh dalam kepahitan, mengenal susah sejak masa kecilnya, menjalani kehidupan yang keras. Miskin pujian dan apresiasi. Banyak anak mengamini bahwa mereka memang bodoh dan miskin serta bukan pemilik masa depan yang gilang gemilang. Pasrah pada apa yang mereka pikir sebagai jalan hidup.
Tim Pelayanan Adik Asuh memilih jalur pendidikan untuk menolong anak-anak bangsa ini dan mendampingi mereka dengan segala keterbatasan yang ada untuk mengejar berbagai ketertinggalan dalam pelajaran. Dua jam seminggu adalah waktu yang sangat sedikit, sehingga terkadang kami juga harus belajar puas dengan apa yang ada. Prestasi akademik adik-adik jelas jauh di bawah anak-anak lainnya yang bersekolah di sekolah-sekolah bagus berfasilitas lengkap, dan dalam banyak hal kami berjuang keras agar nyala api motivasi mereka tidak padam.
Namun bukan cuma nilai akademis yang dikejar..
Anak-anak belajar dari pengalaman. Pengalaman pun tak kurang-kurang mengajar begitu banyak hal kepada mereka, entah itu manis atau getir. Yang pasti, untuk setiap adik yang Tuhan taruh dalam pelayanan kami, kami belajar untuk mencintai mereka dengan segala karakteristiknya. Karena pengalaman dicintai dan dihargai pada masa kecil adalah bekal yang sangat berharga bagi mereka untuk melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Sebuah foto telah mengabadikan senyuman Pipit, Murni dan Hamidah ketika bermain di taman dekat GKI Kebayoran Baru namun tidak mengekalkan kebahagiaan masa kecil mereka. Perjalanan yang mereka akan lalui masih sangat panjang dan semoga cinta dan kasih sayang yang kami berikan memampukan mereka untuk tetap mencintai kehidupan dengan segala suka dukanya dan menyadari bahwa mereka berharga. Setidak-tidaknya demikianlah mereka di mata Tuhan dan di mata kami.
Tersenyumlah…
Pernah mendengar seorang anak yang begitu bahagia karena tidak naik kelas? Kedengarannya aneh, bukan? Tetapi kenyataannya.. ya, ada!
Hal ini terjadi pada salah satu adik asuh kami. Kami mengunjungi rumahnya yang hanya berupa satu bilik kecil sebuah lapak. Bilik itu adalah ruang tamu, ruang tidur sekaligus dapur. Tidak ada ruangan yang lain. Saat kami datang, adik kami ini sedang sendirian karena orangtuanya sedang bekerja.
Dengan prihatin kami menanyakan perihal ia tidak naik kelas tahun ini. Kami kuatir hal tersebut membuat ia tertekan karena ia anak yang agak tertutup. Tetapi ia hanya tersenyum, ada gurat kelegaan di wajahnya. Kami bingung ketika ia mengatakan bahwa hal itu justru menyenangkan hatinya. Alasannya sederhana, sekarang ia sudah terbebas dari anak-anak yang sering jahil mengejeknya karena mereka semua sudah naik kelas. Di kelas lamanya ini, ia tidak perlu gelisah karena diejek dan dapat lebih berkonsentrasi belajar serta memperoleh nilai yang bagus.
Perilaku merendahkan dan direndahkan orang lain sudah dimulai sejak anak-anak. Hal ini menjadi suatu keprihatinan tersendiri bagi kami. Bukan saja anak orang kaya, anak-anak golongan ekonomi lemah juga kadang melakukannya. Adik kami yang saat ini bahagia karena tinggal kelas juga pasti tidak bisa menebak apakah setelah terlepas dari anak-anak jahil sebelumnya tidak akan bertemu anak-anak jahil yang lain. Terlalu sayang rasanya bagi seorang anak untuk mengorbankan satu tahun pelajaran demi kedamaian hati.
Percakapan hari itu akhirnya tidak lagi membahas soal tidak naik kelas. Kami bercerita tentang hidup yang juga memiliki sisi-sisi yang baik, mencoba mereka-reka keikhlasan adik kami untuk mengampuni dan berdamai dengan hatinya, dan berulang kali menegaskan bahwa ia anak yang hebat dan layak dicintai. Orang lain boleh saja bodoh sehingga belum melihat semua itu, tetapi tidak akan menjadi penghalang bagi haknya untuk mengembangkan potensi terbaik yang ada dalam dirinya.
Jadi, jangan tidak naik kelas lagi ya…
Dalam pelayanan masyarakat, dikenal tujuh butir pedoman pelayanan publik. Pedoman ini diperkenalkan oleh Lord Nolan dan lebih dikenal dengan the Nolan Principles (The Committee on Standard in Public Life, www.publicstandard.gov.uk, 1995), yaitu:
-
Penyangkalan Diri (Selflessness)
-
Integritas (Integrity)
-
Objektivitas (Objectivity)
-
Memiliki pertanggungjawaban (Accountability)
-
Keterbukaan (Openness)
-
Kejujuran (Honestly)
-
Kepemimpinan (Leadership)
Apa hubungannya dengan blog ini?
Secara langsung, pedoman tersebut tidak berhubungan dengan blog ini. Tim Pelayanan Adik Asuh juga masih bergumul dan belajar untuk menerapkan pedoman tersebut dalam pelayanan kami terhadap anak-anak sektor informal dan komunitasnya.
Blog Adik Asuh sendiri dibuat sebagai usaha untuk mendokumentasikan bagaimana pelayanan ini berproses sekaligus sebagai wahana interaksi dengan rekan-rekan sekerja melalui dunia maya untuk saling mendukung, mengoreksi dan menguatkan.
Dalam hubungannya dengan the Nolan Principles, pembuatan blog ini sekaligus merupakan upaya pertanggungjawaban publik (public accountability) bahwa dengan segala jatuh bangunnya, pelayanan ini boleh terus hadir. Ada proses pendisiplinan diri di sini, ada keterbukaan, ada kejujuran dalam melihat permasalahan dan berkat, belajar objektif dan belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri serta memiliki Integritas dalam tim.
CIBFest ’08 dan blog ini
Blog ini terpilih sebagai blogger terbaik kategori organisasi dalam CIBFest ’08. Puji Tuhan. Semua kakak asuh merasa senang dan bangga. Ini suatu kejutan yang indah ketika kami berada dalam masa sarat pergumulan. Walaupun demikian, kami harus menyadari bahwa apa yang coba secara jujur kami sampaikan melalui blog ini jauh dari hebat. Semuanya ini hanya karena cinta Tuhan yang besar pada kami, jadi biarlah semua kemuliaan hanya milik Tuhan semata.
Terima kasih CIBFest ’08 yang sudah memberi kepercayaan kepada kami untuk menyandang predikat juara. Untuk seluruh kakak asuh, dan semua rekan-rekan yang melayani anak-anak sektor informal…. Ayo terus semangat!!!
Tuhan memberkati!
Sejak awal tahun 2008, jumlah adik asuh yang kami layani terus meningkat. Demikian pula jumlah kakak asuh, walaupun tidak sebanyak adik asuh.
Peningkatan ini di satu sisi merupakan bentuk kemajuan karena menunjukan kesadaran komunitas yang kami dampingi akan pentingnya pendidikan. Begitu lama kami bergumul dengan motivasi adik-adik untuk sedapat mungkin tetap bersekolah dan mengenyam pendidikan. Melihat adik-adik baru berdatangan dan adik-adik lama masih tetap bertahan dan satu per satu mulai mengenyam pendidikan sekolah menengah atas adalah satu sukacita tersendiri. Tetapi di sisi yang lain, hal ini menjadi suatu pergumulan tersendiri karena berhubungan dengan sumber daya kami dalam memberikan pelayanan.
Adik-adik yang datang tidak semuanya siap untuk belajar sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah walaupun mereka bersekolah. Kemampuan menyerap pelajaran dan mempertahankan fokus belajar adalah hal yang masih terus perlu diperhatikan. Hal ini menjadi satu PR besar bagi para kakak asuh.
Para kakak asuh sedang berupaya untuk memperkuat kemampuan dasar adik-adik terutama dalam hal membaca, menulis dan berhitung (tambah, kali, kurang, bagi) sekaligus membantu adik-adik memahami pelajaran di sekolah sesuai kelasnya masing-masing. Bulan Agustus menjadi target kami untuk memantapkan kemampuan dasar adik-adik. Belum tentu mencapai target dengan sempurna mengingat pertemuan kami hanya 2 jam per minggu dengan adik-adik, tetapi usaha ke arah tersebut tetap diupayakan. Mohon didukung dalam doa yah.. (”,)
Jadi, bukan sekedar berbicara tentang kuantitas dan kualitas. Yang kami tahu, pengharapan itu harus dinyatakan dalam kehidupan kita sebagai pribadi maupun dalam hidup berkomuni. Lilin pengharapan sudah diletakkan di tangan kami dan lilin itu sudah dinyalakan. Dengan pertolongan Tuhan, akan tetap menyala meski banyak tantangan.
Hari ini adalah Hari Anak Sedunia. Kita semua diingatkan kembali bahwa anak-anak adalah bagian dari komunitas dunia yang juga memiliki hak dan peran di manapun ia berada. Kepentingan terbaik anak adalah prioritas utama dalam menentukan kebijakan yang bersentuhan dengan keberadaan seorang anak.
Anak adalah masa depan. Mempersiapkan anak-anak Indonesia mencapai potensi terbaiknya berarti mempersiapkan masa depan bangsa ini dengan lebih baik. Hal paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak mencapai potensi terbaiknya.
Anak jangan selalu dijadikan sebagai objek. Mereka juga punya hak berekspresi dan menjadi anak-anak selayaknya anak-anak. Anak-anak juga memiliki perasaan, yang bila terluka akan jadi luka yang sulit untuk disembuhkan hingga akhir hidupnya.
Anak-anak Indonesia adalah harta bangsa ini. Mereka sangat berharga! Pastikan mereka diterima, minimal di rumahnya sendiri dan di negaranya sendiri (“,)





Recent Comments