Pernah mendengar seorang anak yang begitu bahagia karena tidak naik kelas? Kedengarannya aneh, bukan? Tetapi kenyataannya.. ya, ada!

 

Hal ini terjadi pada salah satu adik asuh kami. Kami mengunjungi rumahnya yang hanya berupa satu bilik kecil sebuah lapak. Bilik itu adalah ruang tamu, ruang tidur sekaligus dapur. Tidak ada ruangan yang lain. Saat kami datang, adik kami ini sedang sendirian karena orangtuanya sedang bekerja.

 

Dengan prihatin kami menanyakan perihal ia tidak naik kelas tahun ini. Kami kuatir hal tersebut membuat ia tertekan karena ia anak yang agak tertutup. Tetapi ia hanya tersenyum, ada gurat kelegaan di wajahnya. Kami bingung ketika ia mengatakan bahwa hal itu justru menyenangkan hatinya. Alasannya sederhana, sekarang ia sudah terbebas dari anak-anak yang sering jahil mengejeknya karena mereka semua sudah naik kelas. Di kelas lamanya ini, ia tidak perlu gelisah karena diejek dan dapat lebih berkonsentrasi belajar serta memperoleh nilai yang bagus.

 

Perilaku merendahkan dan direndahkan orang lain sudah dimulai sejak anak-anak. Hal ini menjadi suatu keprihatinan tersendiri bagi kami. Bukan saja anak orang kaya, anak-anak golongan ekonomi lemah juga kadang melakukannya. Adik kami yang saat ini bahagia karena tinggal kelas juga pasti tidak bisa menebak apakah setelah terlepas dari anak-anak jahil sebelumnya tidak akan bertemu anak-anak jahil yang lain. Terlalu sayang rasanya bagi seorang anak untuk mengorbankan satu tahun pelajaran demi kedamaian hati.

 

Percakapan hari itu akhirnya tidak lagi membahas soal tidak naik kelas. Kami bercerita tentang hidup yang juga memiliki sisi-sisi yang baik, mencoba mereka-reka keikhlasan adik kami untuk mengampuni dan berdamai dengan hatinya, dan berulang kali menegaskan bahwa ia anak yang hebat dan layak dicintai. Orang lain boleh saja bodoh sehingga belum melihat semua itu, tetapi tidak akan menjadi penghalang bagi haknya untuk mengembangkan potensi terbaik yang ada  dalam dirinya.

 

Jadi, jangan tidak naik kelas lagi ya…