Beberapa waktu terakhir ini, saya sering ke sekolah adik-adik untuk mengurusi berbagai keperluan mereka sekaligus memonitor aktivitas mereka di sekolah. Biasanya yang mendapat perhatian ekstra adalah adik-adik SMP dan SMK karena kebutuhan mereka banyak sekali. Terkadang secara khusus saya menyempatkan diri bertemu mereka langsung setelah berbincang-bincang dengan gurunya. Seperti beberapa hari yang lalu…

Saya sedang ke sebuah SMK di daerah Jakarta Selatan, beberapa adik kami bersekolah di situ. Seiring waktu, adik-adik tersebut sudah tumbuh tinggi dan besar. Waktu saya selesai membayarkan SPP mereka, jam sekolah juga usai dan murid-murid mulai bubar. Saya menemui adik-adik di gerbang sekolah dan mengambil waktu mengkomunikasikan keluhan-keluhan pihak sekolah dan menanyakan masalah adik-adik di sekolah. Kebetulan salah satu adik bolos selama beberapa hari. Selidik punya selidik, ternyata adik tersebut tidak masuk karena tidak punya uang transport dan juga jengah karena ada beberapa tagihan yang belum dibayarkan ke sekolah.

Walaupun kami berbincang tidak lama, tetapi ternyata kehadiran saya hari itu sempat menyita perhatian siswa-siswa lain yang juga baru keluar sekolah. Dan saat saya pamit untuk pulang lebih dulu, saya masih sempat mendengar mereka bertanya kepada adik-adik, “itu siapa?”, dan sambil tersenyum adik-adik dengan spontan menjawab penuh semangat.. “kakakku…!”

Saya tertawa dalam hati mendengar jawaban tersebut apalagi melihat tampang tidak percaya mereka yang menerima jawaban tadi. Jelas sekali wajah Indonesia timur saya tidak mendukung untuk dikira sebagai kakak kandung dari adik-adik. Tetapi saya juga merasa sangat terharu karena mereka menerima saya dan sudah tentu para kakak asuh yang lainnya sebagai saudara dan kakak yang dibanggakan.

“Jadi itu kakakmu?”

“Iya.. kakakku!”