1MATA Aisah tertuju pada uang pecahan yang tergeletak di depannya. Tangan mungilnya dengan gesit meraih uang kertas Rp 5000, sesaat kak Ambar usai membacakan pertanyaan kuis. Ia berlari kencang dan memberikan uang itu pada Kak Vanie yang berada sekitar tiga meter di hadapannya.

Dan horee….. Aisah yang mengenakan baju pink itu berhasil membawa timnya menjadi juara pertama dalam perlombaan di Museum Bank Mandiri, Sabtu 11 Juli lalu. Bersama tim kakak asuh GKI Panglima Polim, adik-adik berwisata ke museum: Bank Indonesia dan Bank Mandiri, di kawasan Kota, Jakarta.

Kedua museum itu dipilih untuk menikmati masa liburan sekolah memasuki tahun ajaran baru 2009. Adik-adik yang mengikuti acara ini adalah mereka yang rajin mengikuti les setiap Sabtu di ruang Tesalonika, GKI Panglima Polim. Selain itu, mereka adalah anak-anak yang pada 19-20 Juli tidak mengikuti Jambore Sahabat Anak di Cibubur.

Perjalanan wisata yang dikomandani Kak Ben ini, dimulai dari pukul 08.00 ke museum Bank Indonesia. Adik-adik disuguhi tayangan film kartun tentang Buah Apel dan Anak Kecil. Film yang diputar sekitar 20 menit ini mengisahkan transaksi atau jual beli dalam suasana jalan-jalan.

Disusul kemudian dengan melihat-lihat benda sejarah perbankan di Indonesia. Benda-benda seperti mesin tik, stempel, dan lukisan bangunan bank Indonesia jaman dahulu. Lalu games tentang film yang dipimpin Kak Ambar, dan permainan Bisik-bisik. Sedangkan anak remaja atau SMK mencatat peristiwa sejarah dan diberikan pertanyaan.

Dua jam berselang, adik-adik menikmati bakpau hangat dan segelas air putih di pelataran museum Bank Indonesia. Beberapa di antara mereka membuka kotak bekel: berisi mie goreng. Slurppp sedapnya.. Diselingi dengan foto-foto bersama kakak asuh. Pose dan senyum menyatu dalam kamera.

2

Udah segar deh… Adik-adik beranjak ke museum Bank Mandiri yang letaknya bersebelahan dengan gedung museum Bank Indonesia. Mereka kembali disuguhi dengan film. Kali ini lebih spesifik, karena berkaitan dengan sejarah bank swasta itu yang merupakan gabungan dari empat bank: Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim dan Bapindo. Keempatnya bergabung karena krisis moneter pada tahun 1998.

Di tempat ini, suasananya tidak kalah menarik. Bangunannya eksotis: pilar-pilar kokoh, kaca pirek warna warni yang menyusun tentang empat musim, lantai yang terbuat dari cetak keramik masa lampau, serta puluhan gantungan lampu bundar yang dipasang dengan bohlam kuning. Tempoe doeloe nan klasik.

Mungkin juga karena alasan itu, pasangan yang akan menikah datang ke museum ini untuk foto pre wedding. Kakak asuh pun ehm tak kalah mati gaya untuk memanfaatkan jalan-jalan ini. Sesi foto berlangsung di sudut-sudut ruangan …  Jepret mas, mbak! Sini loh kak, lae, eda…. tempatnya keren! Pre wed ya?? Halah!!!!

4Siang menjelang, saatnya bagi adik-adik menikmati santapan ayam crispy dari Kentucky Fried Chicken. ”Cuci tangan dulu,” kata Kak Ata dan Kak Dwi yang memandu acara. Bergiliran tiga orang, adik-adik membersihkan tangannya ditemani kakak asuh. Setelah berdoa, mereka makan dengan lahap. Terima kasih Tuhan…

Tenaga adik-adik kembali ke angka 100 persen. Siap untuk bertanding. Kalah dan menang adalah realita dalam kehidupan. Adik-adik asuh diajar melalui perlombaan, untuk berkompetisi sekaligus memahami bahwa kemenangan diperoleh dengan usaha. Sebaliknya kegagalan berarti pintu menuju keberhasilan.

Akhirnya, adik-adik pun boleh pulang membawa oleh-oleh hadiah dan makanan ringan. Air muka mereka memancarkan kegembiraan ketika ketika turun dari bus  di Taman Panglima Polim. Sayonara, sampai jumpa lagi di karyawisata selanjutnya.. (Tata Silaban)

5