LAPANGAN berumput itu sepertinya ikut tertawa. Ketika puluhan adik asuh berlari kencang menuju tenda hijau di tepi lapangan. Mereka riang; karena baru saja Slamet, Lina dan Alsa memberikan kemenangan dalam lomba bakiak—sandal kayu berukuran panjang–, di Jambore Sahabat Anak, Minggu sore 19 Juli 2009.

Tidak dinyana, ketiga adik berawak mungil telah mengalahkan lawan yang berbadan besar dan berlangkah panjang. Hanya karena lawan kurang cermat; yang lebih dulu meninggalkan arena tanding sebelum menyentuh garis finish. Lantas disusul Slamet dan kawan-kawan dengan langkah pasti, meski sempat jatuh sekali, menuju garis finish.

1-small

”Ayo kita tos,” ajak Kak Daniel spontan dengan lantangnya, usai pertandingan itu. Adik serta kakak asuh pun membentuk lingkaran dan menyatukan jemari tangan seraya berteriak bangga ”Bangka Belitung”! Ini adalah nama tim adik asuh asal Panglima Polim, dalam Jambore di Cibubur, Bogor.

Kegembiraan itu mirip salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi.. Ketika anak-anak didik Bu Mus menang dalam lomba karnaval dan memperoleh piala, untuk kemudian dipajang di lemari kelas yang pintunya harus diganjal kertas baru tertutup rapat. Senyum dan tawa para laskar itu tulus, persis sama dengan adik asuh Panglima Polim.

Tawa mereka pun tetap renyah di tengah teriknya matahari pagi menjelang siang (20/7). Saat itu mereka mengikuti pertandingan Kuis Tanah Airku (KUTU). Di babak semifinal, adik-adik tidak saling menyalahkan malahan mentertawakan kesalahan mereka. Berbeda dengan kelompok lainnya yang terlihat beradu mulut. Lagi-lagi mereka riang, ketika diumumkan tim Bangka Belitung gagal masuk babak final.

Mungkin bisa jadi benar, apa yang dikatakan Kak Nadine, bahwa adik-adik ikut bertanding hanya untuk bermain. Kalah dan menang tidak menjadi prioritas. Tapi semangat, kerjasama, kekompakan tetap menjadi kunci untuk mengikuti setiap kompetisi.

Bisa jadi pula, sikap manis mereka ini yang menarik perhatian wartawan DAAI TV untuk mewawancarai setelah kuis berakhir. Salah satunya, Ary Febri yang terlihat lincah dalam setiap pertandingan termasuk di Olimpiade Sahabat Anak (Olisa). Ia diwawancarai tentang alasannya mengikuti Jambore ini. Yang rencananya ditayangkan di Program Mata Hati.

Dan usut punya usut, ternyata lebih dari tiga anak diwawancarai termasuk Lina dan Wanto. Wah kalau gitu, makasih ya mba..:) Mudah-mudahan, adik-adik bisa menjadi inspirasi buat pemirsa DAAI TV

2-small

Meski begitu, kemenangan kepingin banget diraih. Maka ketika bazaar dimulai, Kak Sisil dan adik-adik bersiap-siap menggelar lapak di depan tenda. Barang dagangan berupa gelang-gelang, kalung dan penjempit notes/foto siap dijual. ”Ayo beli.., beli… Karya kami … Bangka Belitung,” dinyanyikan adik dan kakak (termasuk Kak Carmen dari Sahabat Anak) dengan iringan kaleng kue dan botol aqua.

Di bazaar ini, Kak Martha pun memutar otak agar penjepit notes yang masih banyak terpajang laku terjual. Cukup dengan memajangkan foto keluarga Silaban berukuran 2 R, di penjepit foto.. mantaplah sudah bagi pengunjung untuk tahu manfaat benda unik yang terbuat dari resin dan kawat itu. ”Beli bu, pa, kak, dek.. Yang beli dapat berkah, yang jual dapat untung,” kata Kak Martha dengan kacamata hitamnya.

Kerja keras pun membuahkan hasil. Kak Sisil tersenyum puas, ketika seluruh dagangan laku terjual. Total Rp 570 ribu. Puji Tuhan! Dan tim Bangka Belitung meraih juara III untuk lomba bazaar ini. Lagi-lagi, rumput itu tertawa ketika adik-adik berlarian menuju tengah lapangan untuk membawa hadiah pulang ke Panglima Polim. Puji Tuhan..(Martha Silaban)

3-small

4-small