“..Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada Yang Kuasa

Cinta kita di dunia, selamanya..”


Potongan lirik Laskar Pelangi ini berulang-ulang dinyanyikan adik asuh Panglima Polim dalam Jambore Sahabat Anak di Cibubur, 19-20 Juli lalu. Dipilih sebagai yel-yel, boleh jadi lagu ini yang kemudian menjadikan adik-adik so sweet, selama acara berlangsung.

Di sesi Karya Nusantara, yel-yel itu wajib hukumnya dinyanyikan. Karya Nusantara adalah rangkaian acara yang menyajikan berbagai kreativitas: membuat pajangan kertas, membuat batik, kerajinan pembatas buku dan mote, kerajinan lampion dan mainan anak, serta mengenal alat musik tradisional.

Setiap kali adik-adik pindah area untuk belajar kreasi, panitia meminta mereka untuk menampilkan yel-yel. ”Wah, so sweet,” komentar salah satu kakak panitia mbatik, usai tim Bangka Belitung menampilkan yel-yelnya di hadapan mereka dan peserta lainnya. Wah Kak Nia sang koreografer pun bangga disebut so sweet ya..🙂

Kenyataannya mereka memang manis dan bersikap sopan sepanjang acara. Ke 26 adik yang ikut Jambore ini terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi di rangkaian Karya Nusantara. Secara bergantian maju ke depan dan membuat karya. Atau beramai-ramai mengerjakan perintah/permintaan panitia kreasi anak.

5-small

Salah satu adik, Andre, terlihat bersemangat ketika membuat pembatas buku. Ia menyimak petunjuk dari salah satu kakak panitia berkaos kuning yang cantik. Dan Andre kemudian tersenyum bangga ketika pembatas buku bergambar orang yang mengenakan peci dan batik itu telah selesai dibuatnya. Hmmm…

6-small

Tapi bukan hanya di sesi kreativitas saja, adik-adik ceria dan aktif. Di sesi olimpiade sahabat anak pun (Olisa I dan II), mereka sportif. Seperti sudah sepenggal diceritakan di Tertawa di Rumput hijau bagian I. Kisah lainnya, bahwa biarpun kekalahan demi kekalahan datang beruntun, tapi semangat tanding tak pernah luntur.

Saat pertandingan tarik tambang, mereka yang terdiri atas Ari F, Ipung, Mila, Salamah, Andre dan Nita harus bertanding dengan adik-adik dari tim lawan yang berbadan besar. Perjuangan mereka patut diacungi jempol, karena hasilnya 2-1. Meski kalah, tapi setidaknya Kak Arend yang memandu mereka boleh bangga. ”Mereka sampai sempat tarik rumput untuk tahan tambang,” kata Kak Arend.

7-small

Yang tidak kalah menegangkan, ketika pertandingan yang melibatkan dua kakak asuh. Kak Q Boy dan Kak Daniel (rekan dari Sahabat Anak), harus bertarung dalam permainan ’Buntelan Semar’—mirip main naga-nagaan. Yakni adik dan kaka berbaris berpegangan tangan satu sama lain.

Kak Q Boy yang berada di baris depan—sebagai kepala naga, matanya dibuat tertutup sehelai kain, sedangkan Kak Daniel menjadi ekor dari barisan itu. Sedangkan adik-adik berada di antara kedua kakak. Nah agar lawan mati, kepala naga harus memukul atau melemparkan buntelan. Tapi menjaga ekor tidak terkena lawan.

Wah jerit-jerit deh penonton semuanya, ketika lonceng permainan itu dibunyikan di lapangan. Pasalnya dalam satu arena terdiri dari 3-4 naga-nagaan. Mereka saling berlari, berkejaran dan mematahkan lawan. Sampai hasilnya, tim Bangka Belitung memperoleh nilai seri dengan lawan.

Permainan lainnya yang tidak kalah istimewa sekaligus menggelikan adalah permainan Estafet Bahenol. Bryan, si adik kecil sangat menggemaskan dan membuat kak Arend tertawa lepas. Karena permen yang ada di baskom bercampur kopi malah ditelannya. Dan menurut Kak Sisil, mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat tim tidak memperoleh poin.

Semua aktifitas yang dikemas padat itu pun tidak membuat fisik adik dan kakak lemah. Malahan ketika malam pentas kreasi digelar, berjoget dan bernyanyi bersama dengan riangnya. Gerakan poco-poco pun tumpah di rumput Bumi Perkemahan Cibubur. Ya, rumput itu terus tertawa selama kami menari bersama. (Martha Silaban)