Panasnya matahari langsung terasa saat Tim Tanggap Darurat (TTD) GKI Kebayoran Baru menapakkan kaki di Bandara Minangkabau pagi itu, Minggu 11 Oktober 2009.  Walaupun sebagian besar dari kami baru kenal saat itu, TTD yang terdiri dari tiga pemuda GKI KB (Noel, Ditra, Davin), tiga dokter dari Universitas Kristen Indonesia (Uli, Amel, Ayu), dan dua orang dari Tim Adik Asuh GKI KB (Jeanny dan saya sendiri) melangkah bersama-sama, siap menjalankan tugas pelayanan kami di ranah Minang.

Sebagai perwakilan dari Tim Adik Asuh, saya dan Kak Jeanny ditugaskan sebagai tenaga pendampingan anak-anak korban bencana gempa bumi yang terjadi beberapa hari sebelum kedatangan kami di Sumatera Barat.  Semuanya serba mendadak dan persiapan kami pun apa adanya. Namun setibanya kami di sana, rasa khawatir yang sempat timbul di dalam diri saya pun segera lenyap, berganti dengan sukacita penuh (maklum, baru pertama kali ke Pulau Sumatera) dan semangat besar untuk melayani.

Di bandara pagi itu, kami disambut oleh dua orang rekan pemuda Bren dan Widi, yang telah terlebih dahulu dikirim sebagai tim survey TTD.  Dengan menumpangi dua mobil milik Pendeta Apollo dan salah seorang anggota jemaat gerejanya, Bren dan Widi mengantar kami ke Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Rantau yang terletak di Kampung Nias, kota Padang, yang juga merupakan posko TTD sekaligus tempat kami menginap dengan sangat nyaman selama seminggu.

Matahari terus menyinari perjalanan kami menuju gereja Rantau. Di atas kami melihat langit biru yang sangat indah dihiasi awan-awan putih, sebuah pemandangan yang  langka bagi penduduk Jakarta. Lain halnya dengan pemandangan di sekitar kami. Memasuki kota Padang, kami melihat tanda-tanda kerusakan yang diakibatkan gempa. Beberapa bangunan terlihat retak dan bahkan ada yang rubuh, rata dengan tanah. Bencana itu tentunya meninggalkan banyak duka bagi penduduk setempat.  Namun saya kagum melihat banyak toko-toko dan berbagai usaha perdagangan lainnya sudah berjalan kembali. Masyarakat setempat pun terlihat sudah mulai menjalankan rutinitas kesehariannya. Sepertinya masyarakat Minang sudah bangkit kembali dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Setibanya kami di Gereja Rantau, kami disambut oleh Bapak Pendeta Apollo dan keluarganya beserta seluruh anggota jemaat yang baru menyelesaikan ibadah Minggu pagi itu. Siang itu kami membuka posko medis di samping gereja untuk memberikan pengobatan gratis bagi penduduk sekitar, sementara saya dan Kak Jeanny mengakrabkan diri dengan anak-anak jemaat.  Selain “menguji coba” berbagai aktivitas dan permainan yang kami bawa dari Jakarta, kami juga memperoleh gambaran mengenai keadaan anak-anak di Padang.  Logat bahasa Indonesia mereka memang sedikit berbeda, namun anak-anak di Padang sama saja dengan anak-anak di Jakarta dan dimanapun juga;  mereka selalu senang bermain🙂.

Aktivitas belajar adik-adik kelas 1 s.d. 3, Bunga Mas, Padang

Selama beberapa hari pertama, TTD mendatangi daerah-daerah tempat tinggal anggota jemaat yang mengalami kerusakan akibat gempa seperti Perumahan Bunga Mas, Tabing, dan Pariaman.  Tim Medis membuka posko pengobatan gratis, sementara Kak Jeanny dan saya bermain dan belajar dengan adik-adik setempat.  Ternyata sekolah sudah dimulai hari Senin 12 Oktober 2009.  Namun sebagian besar sekolah, terutama SD, baru mengisi kegiatannya dengan bermain dan jam sekolah hanya setengah hari.  Medan pelayanan ini memang baru bagi saya dan Kak Jeanny, namun kami selalu membawanya dalam doa dan selalu berusaha untuk saling menenangkan di kala kami merasa cemas.  Alhasil, kami melihat anak-anak itu bersukacita dan kami turut bersukacita karenanya. Permainan dan lembar-lembar aktivitas seadanya yang kami bawakan pun laris manis. Anak-anak yang kami temui sangat aktif, kritis, dan humoris.  Banyak anak-anak juga sangat pintar dan dapat menyelesaikan semua permainan dan aktivitas yang kami anggap cukup sulit untuk anak-anak seumuran mereka.  Sesekali beberapa anak terlihat cemas karena merasa terjadi gempa, sepertinya bencana yang telah mereka alami meninggalkan sedikit trauma di dalam diri mereka. Namun kecemasan itu tidak pernah berlangsung lama dan mereka pun ceria kembali. Di penghujung hari walaupun lelah, saat perpisahan dengan anak-anak setempat selalu terasa mengharukan.  Ada sekitar 100-an anak di setiap lokasi yang kami datangi dan semuanya meninggalkan kesan yang mendalam.

Aktivitas belajar darurat adik-adik kelas 4-6 SD di Bunga Mas, Padang

Pada hari ke-4, kami sudah menyelesaikan misi kami di semua target lokasi yang telah ditentukan. Maka pada hari ke-5, TTD bergabung selama sehari dengan organisasi Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) yang membuka posko di daerah Balimbing dan Banuaran. Kami mendapat informasi bahwa jumlah anak-anak di kedua lokasi ini jauh lebih banyak, sementara persediaan lembar aktivitas untuk anak-anak kian menipis dan kondisi fisik saya dan Kak Jeanny pun semakin lemah. Namun kami serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Dan betapa beruntungnya kami, hari itu saya dan Kak Jeanny mendapat bala bantuan yang sangat menyegarkan dan di saat yang sangat tepat.  Karena tim medis dari GKI sudah cukup memadai, maka kegiatan pendampingan anak kali ini dibantu oleh anggota-anggota TTD lainnya.  Panas yang menyengat dan hujan yang deras menghiasi hari itu, tapi keceriaan nampak di setiap wajah, baik anak-anak maupun kakak-kakak yang bermain dan mendampingi mereka.

Misi pelayanan kami yang terakhir kami salurkan di daerah Air Dingin tempat Lokasi Pembuangan Akhir kota Padang.  Di sini saya dan Kak Jeanny mendapat kesempatan untuk mengajar anak-anak SD di Musholla karena bangunan sekolah mereka sedang diperbaiki. Seperti di lokasi-lokasi sebelumnya, masyarakat setempat menerima kami dengan sangat baik.  Dengan demikian kami pun dapat melanjutkan misi kami untuk menyebarkan kasih kepada sesama manusia tanpa mempersoalkan perbedaan agama.

Jika saya renungkan kembali perjalanan kami selama satu minggu itu, tidak akan ada habisnya saya mengucap syukur kepada Tuhan.  Berbagai keajaiban demi keajaiban kami saksikan dan kami alami selama di sana. Dari panasnya kota Padang sampai dinginnya Bukittingi. Dari kesibukan masyarakat Minang yang terlihat di jalan-jalan sampai eratnya persekutuan jemaat Gereja Rantau. Dari pemandangan indah Ngarai Sianok sampai tawa anak-anak yang kami temui.  Bahkan kami lolos dari bahaya tanah longsor yang terjadi saat kami melewati Padang Panjang. Kami tidak pernah kekurangan dan senantiasa dilimpahi sukacita. Tentunya semua itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan serta dukungan dari kekasih-kekasih kami yang selalu mendoakan kami dan mengirimkan kata-kata penyemangat yang menguatkan kami. Bencana gempa yang telah terjadi membukakan hati kami untuk menjamah masyarakat di Sumatera Barat, dan kesediaan mereka untuk menerima kami telah memperlancar misi kemanusiaan GKI Kebayoran Baru. Semoga pelayanan kami bermanfaat bagi mereka dan berkenan di hadapan Tuhan. Sungguh keajaiban Tuhan itu nyata, tidak hanya bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya tapi bagi seluruh umat manusia. Dan keajaiban-Nya itu telah kami saksikan di Ranah Minang.

Bermain dan tertawa adalah bahasa universal anak-anak dimana saja, termasuk anak-anak Balimbing yang baru saja mengalami bencana gempa bumi di Padang

Kiranya kasih Tuhan dapat selalu disebarkan di seluruh permukaan bumi ini melalui anak-anak-Nya dan Indonesia selalu dalam lindungan Tuhan. Amin. (Dita Novita Maharani)