Sebuah catatan dari keikutsertaan Tim Pelayanan Adik Asuh dalam Jambore Sahabat Anak XIV

Berfoto bersama di pagi yang cerah setelah menikmati tidur malam yang lelap

Bumi Perkemahan Ragunan, 10 Juli 2010

Malam mulai merangkak menyelimuti Bumi Perkemahan Ragunan saat satu per satu adik masuk ke tenda. Tenda militer berwarna hijau yang dihiasi berbagai gambar kembang kol hasil mewarnai bersama seminggu lalu itu menampung seluruh anggota kelompok ‘Kembang Kol’. Ini adalah hari pertama penyelenggaraan Jambore Sahabat Anak XIV yang mengambil tema, ‘Makanan Sehat untuk Sahabat’. Ada 33 adik dari Tim Pelayanan Adik Asuh GKI Kebayoran Baru dan 15 kakak pendamping baik yang sebelumnya sudah menjadi kakak asuh maupun para relawan Sahabat Anak. Masalahnya hanya satu yaitu terpal untuk alas tidur hanya bisa menutupi 2/3 luas tenda. Pengaturan tidur akhirnya dibuat sedemikian rupa sehingga semua bisa mendapat tempat, adik-adik laki-laki dan kakak pendamping laki-laki tidur dekat pintu tenda bagian belakang, saya dan kak Merry menjadi pembatas di tengah, setelah itu berderet adik-adik perempuan dan kakak-kakak perempuan, sedangkan di pintu tenda bagian depan ada kak Qboy yang menjaga. Dua saf yang sangat rapi teratur.

Bagi sebagian besar adik, ini kali pertama mereka berkemah dan tidur di tenda. Walaupun wajah mereka tampak kelelahan dan mengantuk setelah mengikuti acara Jambore Sahabat Anak hari pertama, mereka sepertinya enggan untuk buru-buru tidur. Ada yang masih bercerita dengan temannya, atau usil mengganggu temannya yang lain yang sudah menutup mata. Padahal saya tahu persis mereka sudah sangat mengantuk karena tadi pagi sudah bangun jam 4 pagi agar jam 5.30 teng sudah siap pergi Jambore. Hmmm… kakak-kakak lebih dulu memasang aksi tidur, dan banyak yang benar-benar langsung tidur dengan lelap, spontan sebagian besar adik langsung mengambil ancang-ancang yang sama. Jadi, sementara di tenda yang lain masih terdengar suara tawa dan anak-anak yang bernyanyi diiringi musik yang mereka bawa masing-masing, penghuni tenda Kembang Kol sudah tertidur dengan pulas dengan mimpinya masing-masing. Memang masih ada beberapa adik yang belum juga tidur dan menganggu temannya yang lain, tetapi setelah saya datangi dan duduk di samping mereka, hanya dibutuhkan waktu lima menit sebelum akhirnya suara nafas lembut dan teratur terdengar sebagai penanda mereka sudah lelap tertidur.

Sekarang, saya yang justru merasa rugi kalau harus cepat-cepat tidur. Wajah adik-adik begitu damai dan manis saat mereka pulas, seolah-olah tidak ada beban apapun di hidup mereka, padahal kehidupan mereka cukup keras dan kadang tidak bersahabat. Saya pandangi mereka satu-satu. Ada Ari yang seharian ini selalu tersenyum padahal seminggu lalu matanya sembab menangis karena tidak berhasil masuk SMP Negeri. Ada Danang yang sangat serius mempersiapkan presentasi majalah dinding walaupun ternyata tidak jadi dilakukan. Ada Diana yang selalu mencari kesempatan untuk minta digendong. Ada Wanto yang jadi maskot Kembang Kol. Ada Ade yang menjadi adik paling dicari sama kakak pendamping dalam jambore kali ini. Ada Anita dan Fika yang kege-eran tadi siang dibilang manis sama anak tenda sebelah. Ada Hamidah yang mau tahu aja urusan kak Dwira. Ada Eriska yang tadi membuat pengakuan kalau ia tidak diijinkan ikut jambore oleh orangtuanya, oleh karenanya ia menyebut nama saya sebagai kakak yang akan menjaganya selama jambore sehingga orangtuanya akhirnya memberi ijin. Dalam hati, ‘ga sopan juga nih adik bawa-bawa nama gw’, tapi melihat tidak ada maksud manipulasi dalam wajahnya jadi.. ya sudahlah.

Kakak-kakak asuh juga tertidur pulas sekali. Saya menaruh banyak harapan pada mereka, apalagi mengingat kakak-kakak yang lama sudah banyak yang tidak bisa aktif. Saya memang agak memaksakan agar mereka cepat siap mengambil alih pelayanan ini, tetapi saya sadar bahwa berproses bukanlah sesuatu yang mudah, jadi saya harus banyak bersabar. Bila tidak sabar, proses bisa menjadi sesuatu yang melukai dan saya sangat tidak menghendakinya. Saya terlalu menyayangi mereka sebagaimana saya menyayangi adik-adik.

Huuaaahhhhhh……… jika memikirkan pergumulan demi pergumulan yang tak kunjung henti menyapa pelayanan ini dan sumber daya yang terus berkurang, saya sering menjadi khawatir. Tetapi melihat wajah-wajah yang tertidur penuh kedamaian, saya tahu bahwa kasih Tuhan sudah, sedang dan akan terus mengalir dalam kehidupan kami. Saya tahu, seandainya saya menghabiskan seluruh waktu saya, seluruh tenaga saya, seluruh harta saya, seluruh perasaan saya bahkan seluruh hidup saya untuk pelayanan ini, mungkin saya tetap tidak mampu mengubah kehidupan satu saja di antara sekian banyak adik ini agar menjadi lebih baik. Tidak mungkin mampu. Tetapi sembari melihat mereka satu per satu dan menyebut namanya dalam hati, saya percaya bahwa Ia yang mendengar doa saya dapat melakukan jauh lebih banyak dan lebih hebat dari apa yang bisa saya bayangkan.

Malam semakin larut. Saya mempercayakan hidup saya dan kami semua dalam naungan tangan kasih Tuhan. God loves you, so do I. This is a lullaby … this is a prayer…

Alhasil setelah tidur cepat, adik-adik sudah bangun pk. 03.00 dan langsung mandi. Saat anak-anak lain bangun, mereka semua sudah lebih dulu tampil segar dan tentu saja… penuh semangaattt!

(ditulis oleh: kak Sisil; foto oleh: kak Anna)