Jambore Sahabat Anak XIV, 10-11 Juli 2010. Untuk kesekian kalinya saya mendengar nama adik yang satu ini dipanggil-panggil. Suara musik dan padatnya kerumunan adik-adik, juga kakak-kakaknya, menyulitkan saya menemukan kakak yang mencari dan adik yang dicari. Saya mundur agak ke belakang, kak Sutan salah seorang relawan Sahabat Anak untuk Jambore kali ini langsung menghampiri dan bertanya: “Kak, lihat adik Ade?”. Saya mengatakan tidak, tetapi pastinya ada di antara kami walau sulit langsung ditemukan karena tempat kami berdiri agak gelap. “Ade dicari kak Qboy!”, lanjut kak Sutan. Yang disebut namanya tadi muncul di tempat kami dengan pertanyaan yang sama, “Kak, lihat Ade?”, di tangan kak Qboy ada plastik kecil, “Saya dipesankan ibunya sebelum berangkat Jambore tadi kalau Ade harus minum obat!”. Lalu kami mencari adik yang bernama Ade.

Ade yang sekarang kelas 3 SD berada di antara adik-adik lainnya di barisan paling depan. Waktu dipanggil, dia langsung datang, tetapi mengetahui akan disuruh minum obat, sontak ia kabur. Jadi kami harus berusaha lagi menemukan Ade. Waktu Ade berhasil kami temukan, saya langsung merangkul dan mendudukkannya di pangkuan saya. Cukup manjur sih, Ade mau mendengar nasehat saya untuk minum obat. Tetapi waktu kak Qboy datang dan menyodorkan obatnya, lagi-lagi Ade kabur, dia berlari ke tenda disusul saya dan kak Qboy. Duh!

Ade sedang meringkuk di pojok tenda sembari membongkar-bongkar isi ranselnya, mengeluarkan ini-itu setelah itu memasukkannya kembali, dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi, dan menghindar kontak mata dengan kami. Sekali lagi saya membujuknya minum obat dengan sabar dan mengatakan jika ia perlu beberapa menit maka kami akan menunggu dan menemaninya di situ. “Tidak usah! Saya minum saja sekarang!”, katanya tanpa memandang kami. Saya menyiapkan air mineral, kak Qboy menyodorkan obatnya. “Lho, banyak sekali obatnya!”, saya sedikit tercengang. Kak Qboy mengangguk, “…makanya, saya tidak tega memaksanya minum obat”. Saya memeriksa sebentar obatnya, itu adalah obat yang harus dikonsumsi dalam waktu beberapa bulan dan saya bisa merasakan tertekannya seorang anak minum obat sebanyak itu dalam waktu lama. “Kamu mau obatnya Kakak hancurkan dulu agar gampang minumnya? atau, kamu mau biskuit untuk mengurangi rasa pahit?”, kami menawarkan. “Tidak usah! Saya bisa minum semuanya sekaligus!”, semua obat itu sudah ada di telapak tangannya yang kecil. “Tunggu!”, kata saya lagi, “Ucap doa dulu atau bilang Bismillah, minta Tuhan tolong kamu cepat sembuh!”. “Tidak usah! Tidak perlu berdoa.. minum obat saja!”, lalu semua obat itu ditelan dalam sekali teguk.

Kami mendekat padanya. Ia mulai lagi dengan aktivitas membereskan isi ransel yang tidak jelas. “Kamu marah ya sama Kakak?”, dia melihat kami sejenak. “Tidak saya tidak marah sama Kakak!”, sedikit terganggu dengan pertanyaan saya tadi. Di luar sana adik-adik yang lain masih menikmati musik dan sebentar lagi ada dongeng dari kak Awam. “Kakak minta maaf ya!”, saya serius mengatakan hal ini. “Tidak Kakak, saya tidak marah sama kakak!”, jawabnya cepat. “Tapi Kakak tetap harus minta maaf sama kamu. Pastinya kamu merasa tidak suka disuruh-suruh minum obat seperti tadi. Maaf ya…”, saya menjelaskan. “Kakak juga minta maaf ya. Kakak juga membuat kamu merasa tidak enak begini”, timpal kak Qboy di samping saya. “Kakak! Saya tidak marah sama kakak! Saya tidak marah sama kakak!”, suaranya meninggi, tetapi memang dia tidak lagi marah, ranselnya sudah digeletakkan begitu saja, pandangan matanya berpapasan dengan pandangan kami, dia tahu kami menghargai perasaannya dan kami tahu saat itu tembok di hatinya sudah runtuh.

Saya dan kak Qboy membantu membereskan isi ranselnya yang berantakan setelah itu kak Qboy kembali ke area panggung mendampingi adik-adik yang lain menyaksikan dongeng dan pertunjukan sulap. Saya masih menemani Ade di tenda bersama dua adik lainnya yang datang belakangan karena kelelahan berdiri. Saya menyuruh mereka tidur tetapi rupanya mereka lebih suka mendengar cerita saya tentang si Thomas (sebuah penggalan masa kecil Thomas Alfa Edison yang dibawakan dalam bahasa anak-anak) dan setelah itu gantian saya yang mendengarkan curhat mereka hehe termasuk penegasan Ade bahwa ia tidak marah kepada saya dan kak Qboy. Karena adik-adik batal ngantuk, kami kembali ke area panggung lagi dan menyaksikan pertunjukan sulap.

Setelah itu, selama Jambore, dimana ada saya di situ ada Ade dan saya jadi tertawa sendiri karena bahan ceritanya tidak habis-habis padahal sebelumnya Ade tidak termasuk anak yang banyak bicara. Besoknya dia masih berusaha kabur sebelum jam makan pagi, tetapi setelah saya ajak, ia  dengan senang hati kembali dan memilih makan dalam tenda karena ada kak Qboy di situ. “Kak, kalau pagi obatku tidak banyak. Aku akan minum yang ini belakangan, karena rasanya manis”, Ade tersenyum sambil memegang 3 butir obat, salah satunya yang dibilang manis adalah vitamin C. “Ade berdoa dulu ya atau bilang Bismillah sebelum minum obat?”, pintaku lagi. “Tidak usah, kak! Minum obat saja!”, saya belum bisa mengubahnya untuk hal yang satu ini. Saya juga tidak yakin, jika saya yang berada di posisinya, akan bisa tangguh untuk menjalani pengobatan dan tetap bersyukur pada Tuhan. Tapi saya yakin, bahkan kata-kata ‘tidak usah’ yang terucap darinya adalah juga sebuah doa karena ketika seseorang tidak cukup kuat untuk berdiri, maka pada akhirnya ia hanya perlu bersujud.

Kata ‘maaf’ memang hanya sebuah kata yang pendek dan sederhana, tetapi kata tersebut memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberi makna baru bagi sebuah relasi. Kata ‘maaf’ tidak hanya digunakan untuk kesalahan yang diakui, tetapi kata ‘maaf’ juga mewakili ungkapan bahwa kita menghargai perasaan orang lain yang tidak nyaman atas perbuatan atau perkataan kita atau suatu kondisi yang tak terhindarkan. Termasuk kepada anak-anak. Kata ‘maaf’ merupakan titik kulminasi Ade pada saat Jambore kemarin. Dan suatu saat nanti, saya berharap Ade bisa menyapa Tuhannya dan mengatakan, “Tuhan terima kasih karena saya telah sembuh”.

Jakarta, Juli 2010

Terimakasih Tuhan karena pada Jambore tahun ini, saya boleh lebih menikmati momen interaksi dengan adik-adik secara personal.

(George Sicillia)