Kampung Cinangneng, Kecamatan Ciampea Udik, Bogor, terdengar gaduh oleh teriakan dan celotehan sekitar 56 adik asuh GKI Panglima Polim, Sabtu, 16 Juli 2011. Di tengah arus air yang tenang, sekelompok anak mencipratkan air ke tubuh kerbau-kerbau yang tambun. “Mandiin kebo, cuy..!” gumamku.

mandiin kerbau

Ka Sisil dan adik asuh memandikan kerbau di belakang sungai Kampoeng Cinangneng, Bogor

Namun, seakan tak terusik, dua kerbau yang dikawal sang gembala tetap berdiam di rendaman air sungai yang berada di belakang “Garden Guest House, Kampoeng Wisata Cinangneng”. Kaka Sisil, lulusan Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, termasuk yang antusias mengajak adik-adik untuk mengenal lebih dekat si kebo ‘halah’ maksudnya, mencoba mendekatkan tangan mungil adik-adik untuk memegang tubuh jinak kebo.

Sementara sebagian dari adik-adik , asyik bermain air sambil bersandar di batu-batu kali. Ada yang tidur-tiduran, tak khawatir pakaian basah kuyub. Tawa mereka lepas, karena akhirnya malah saling mencipratkan air satu sama lain. Di sudut lain, adik-adik remaja, tampak mengambil pose untuk foto-foto lewat ponsel. Mungkin demi ‘update status’ di facebook

Ya, keriaan di Cinangneng seakan tak terlupakan. Menikmati masa liburan sekolah, puji Tuhan, adik-adik asuh dapat merasakan rekreasi bersama kaka asuh. Mereka tidak sekedar basah-basahan saja, tapi juga keringat mereka sempat bercucuran saat berlatih tari bersama teteh yang piawai meliak-liukkan tubuh dan pinggulnya. Berdandan cantik bak pengantin, dengan kebaya hijau dan sanggul mungil yang diberi hiasan melati. Seorang adik, sempat celetuk “Hei ada penganten..” Rupanya dia sang guru tari.

menari jaipong

Bersama teteh yang cantik 'bak pengantin', adik asuh berlatih menari Jaipong. Tangan dan kaki, serta pinggul digoyangkan.

Secara bergantian dibagi menjadi tujuh kelompok, adik-adik dipandu akang dan teteh untuk belajar banyak hal. Mereka berputar dari saung satu ke saung lainnya. Selain memandikan kerbau di sungai, dan berlatih tari di aula mini dekat kolam renang, kegiatan lainnya adalah melukis caping, bermain angklung dan gamelan, membuat wayang, membuat kue, dan melihat pembuatan tahu tempe. Senangnya..

Saat melukis caping, adik-adik terlihat mampu menuangkan kreasi seninya lewat coretan yang disepakati bertajuk “Kampung Cinangneng 2011”, dengan kuas dan tinta minyak warna warni. Hasil karyanya lalu dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Hasil karya lainnya yang juga dibawa pulang adalah wayang yang terbuat dari batang daun singkong.

Cara membuatnya mudah saja, cukup sediakan sepuluh batang daun singkong, lalu diikat-ikat mengikuti pola tertentu. Menurut teteh pendamping bisa juga membuat wayang dari sedotan. Cuma hasil dari sedotan kurang lentur dibandingkan dengan batang daun singkong. Ka Eni, salah satu kaka asuh mengatakan senang bisa mencoba membuat wayang. “Gampang,” katanya tersenyum.

ini wayangku

Wayang yang terbuat dari batang pohon singkong dipamerkan bangga oleh adik asuh

Pelajaran seni yang terbilang butuh kekompakan juga diajarkan kepada adik-adik. Yakni saat bermain angklung dengan not lagu “Rayuan Pulau Kelapa” dan “Burung Kakatua”. Meski adik-adik masih terlihat bingung dengan not-not yang ditunjuk teh Ria, dengan tongkat kayunya pada partitur, tapi semangat adik-adik untuk mengoyang-goyangkan alat musik dari bamboo itu mempesona sekali. Kaka asuh pun terlihat beberapa orang yang memegang angklung, di antaranya Ka Merry, Ka Mario, dan Ka Martha.

Ketika bermain gamelan, kekompakan sebagai sebuah tim juga terlihat saat Narti, Tuti, Indri dan kawan-kawan memainkan catrik. Menurut akang Ridwan, yang memandu mereka, catrik biasanya untuk upacara/kawinan, menyambut pria. Nadanya da mi na ti la. Ada yang memukul mukul bonang, saron, dan gong. Saat bermain 10 orang bersama pelatih gamelan, Mang Gani, para remaja ini mesem-mesem.. Hehe mungkin juga karena Mang Gani dan kang Ridwannya ganteng .

main gamelan

Tuti dan Mang Gani dan delapan adik lainnya memainkan catrik

Namun saat adik-adik yang TK dan kelas 1 SD bermain gamelan, mereka terus memukul sesuka hati saja.. Yang penting pengenalan ya dik.. Ini namanya gamelan, siiipp..

Nah di tengah kesibukan aktivitas yang dijalani, sajian makan siang telah disediakan. Adik dan kaka semuanya terlihat lahap menyantap menu ayam goreng, tahu tempe, ikan asin, lalap, sayur sop/asem, dan lalap. Setelah itu, adik-adik bersiap-siap untuk mengelilingi kampong dan berkenalan dengan warga sekitar. Mereka melihat wirausahawan yang membuat tas, kaos dan jaket serta berjalan-jalan mengelilingi sawah.

menyusuri sawah dan keliling kampung

Menyusuri sawah dan keliling kampung

Akang dan teteh pemandu memberikan keterangan tentang padi, dan keong emas. Disusul kemudian dengan menanam padi dengan teknik jalan mundur. Walhasil, baju dan kaki pun berlumuran lumpur coklat. Kalau kaka-kaka sih, cukup lihat dan potret sajalah ya..

menanam padi

Menanam padi dengan berjalan mundur

Dan sebagai akhir dari pelajaran tentang alam di Kampoeng Cinangneng, adalah berjalan menyusuri sungai serta memandikan kerbau. Beres sudah, mandi deh di pancoran berbatang bamboo. Puji Tuhan, wajah-wajah segar dan gembira terpancar dari adik semua. Apalagi setelah sertifikat dari penyelenggara telah di tangan mereka.

Terima kasih juga kepada Ka Anna dan Ka Audi yang sudah mempersiapkan acara liburan yang tak terlupakan ini. Serta sebelas kaka lainnya, yang telah ikut mendukung seluruh kegiatan. Tuhan memberkati kita selalu.

group photo

Inilah kaka dan adik asuh yang ikut serta ke Cinangneng

Martha Silaban

(www.smartata.wordpress.com)