Desember sebentar lagi berlalu, proses belajar-mengajar dan program lainnya di “Pelayanan Adik Asuh” ditutup dengan persekutuan doa bersama. Tak terasa program yang baru dengan format mengajar yang baru terlaksana 1 semester, dengan berbagai kendala dan tantangan yang ada. Muncul suatu pertanyaan, dan mungkin menjadi pertanyaan kita semua;

” Sejauh Mana Saya Sudah Melangkah?”

Pertanyaan ini adalah suatu feedback untuk mengetahui apa “saya sudah mengerjakan apa yang kita pikirkan/programkan”.

Banyak kendala yang yang saya temukan, terutama waktu.

1. Waktu untuk mempersiapkan Diri

Kadang sangat sulit membagi waktu sehingga bisa membuat bahan-bahan  pelajaran untuk adik-adik di hari Sabtu. Dari beberapa mata pelajaran kemungkinan hanya 60% berhasil mempersiapkan bahan. Belum bisanya mengontrol diri untuk tidak terbawah suasana malas karena capek kerja.

2. Waktu untuk mengajar

2 jam di potong 15-20 menit, merupakan waktu yang sangat sempit menyampaikan bahan yang kita ingin ajarkan. Entah memakai metode apa biar bisa mengakali waktu yang sangat sempit ini?

3. Waktu untuk berbagai dengan kakak asuh

Masih banyak kakak asuh yang blom saya tahu tentang mereka🙂

4. Waktu untuk berbagi dengan orangtua

sampai sekarang belum satupun orangtua murid yang pernah saya ajak bertukar pikiran, apa karena ada kakak-kakak lainnya yang mengurusin kali ya?

Ya…waktu adalah musuh dan teman, yang bisa mengejar-mengejar kita untuk buru-buru, dan bisa juga membuat kita terlalu santai.

Menyikapi waktu tersebut, timbul pertanyaan :

– Sejauh mana saya berperan

-Sejauh mana pengaruh saya terhadap “Pelayanan” ini.

– Apakah pelayanan ini berguna bagi adik-adik

Sangat sulit menjawab pertanyaan diatas, dalam hati saya berkata “emang saya sudah mengerjakan/sudah setia sebagai kakak asuh, sehingga layak mengajukan pertanyaan itu?”

Memang di dalam hati kita, pikiran kita mungkin timbul pertanyaan yang belum terjawab, pertanyaan-pertanyaan yang berbeda-beda dari kita masing-masing.  Di dalam perjalanan pelayanan kita mungkin masih banyak belum terjawab, tapi apakah dengan masalah dan pertanyaan itu kita mundur?Apakah dengan masalah yang ada kita jadi malas untuk berbagi dengan mereka(adikasuh,kakakasuh,orangtua)?

Saya rasa, saya butuh adikasuh untuk mengetahui saya ini sapa, Tuhan memberi kesempatan kepada kita, untuk belajar berbagi, bersabar, dan berdisiplin dari mereka.

Suatu refleksi akhir tahun di kakakasuh oleh Bang Tohom, yang saya tangkap ;

” Kita punya masa lalu yang buat kita jatuh, kita punya masa lalu yang kita kalau bawah sampai skarang akan sangat melelahkan, ketika kita melupakan masalah lalu, ada energi besar, mungkin 3 kali lipat dari skarang”

Hmmm………,

“Iblis tahu masa lalu kita, tapi hanya Tuhan yang tahu 1 detik kemudian”

Cukup sudah pertanyaan-pertanyaan itu, biarlah kita setia dengan pelayanan,pekerjaan, dan pada talenta kita masing-masing.

Biarlah Tuhan yang menentukan apa kita layak berhasil atau tidak. Meminjam cahaya kecil lilin, kita mungkin lilin yang kecil yang akan padam, tapi biarlah cahaya itu berguna bagi penerus-penerus kita(yang lebih muda dari kita) untuk meneruskan cahaya ke generasi berikutnya.

Selamat Natal  2011 dan Tahun Baru 2012 kakak-kakak.

Ben Parhusip

(Menikmati Natal di Sidamanik)