Suatu lokasi di Cipete Utara,Jakarta nama lokasi itu Damai, kita melewati gang sempit yang hanya cukup satu orang. Gang sempit itu hanya satu-satunya jalan ke sebuah rumah adik asuh. Sabtu, 4 Februari 2011, di sore hari.

foto oleh :Ben Parhusip (di salah satu tempat Cipete)                                                                               
 
Pada awalnya saya ragu mempublikasikan foto diatas, karena khawatir membuat seseorang merasa tersinggung atau tidak senang. Tapi perasaaan itu sementara waktu saya pura-pura tidak mengindahkan.

Foto yang diberi judul “Lorong Sempit”, yang diambil saat berkunjung kesalah satu rumah adik asuh yang telah lama tidak datang pada hari Sabtu untuk belajar bersama. Saya tidak mencoba menggambarkan betapa mereka kekurangan, saya hanya mencoba menyampaikan ada rasa  bahagia dikekurangan mereka.

Hanya ada satu jalan ke rumah adik asuh itu (sengaja tidak menyebut namanya), melalui gang sempit. Gang sempit yang cukup satu orang bisa lewat. Sebelum masuk ke daerah perumahan adik asuh, kira-kira 50 meter dari sana ada perumahan dan apartemen yang bagus. Sungguh 2 kondisi yang sangat berbeda jauh. Sampai saat itu tidak kepikiran bahwa di samping perumahan yang bagus(elite) ada rumah rumah yang jauh dari kategori nyaman dan sehat menurut ukuran manusia. Apa mereka (keluarga adik asuh) bahagia dengan kondisi itu? Suatu pertanyaan di benak saya ketika berkunjung. Semua manusia pada umumnya ingin hidup nyaman, hidup sehat, punya rumah yang bagus.Tapi tidak semua manusia punya kesempatan menikmatinya menurut standard yang ditetapkan manusia itu sendiri. Kalau tidak semua punya kesempatan, mereka tidak termasuk kategori manusia yang bisa berbahagia donk?  Saya percaya mereka menemukan sesuatu kebahagiaan di tengah kekurangan mereka. Karena saya yakin mereka bisa bersyukur atas “kekurangan” mereka. Rasa bersyukur, rasa membatasi keinginan sesuatu yang tidak dapat dicapai karena sesuatu keterbatasan, sehingga batasan kepuasan dibatasi dengan sendiri. Ah…sangat susah merumuskan kebahagian yang universal.

Sabtu, 08 Feb 2012, adik itu datang lagi belajar bersama. Setelah selesai mengajar  seorang kakak bercerita tentang adik itu saat proses belajar-mengajar(waktu sharing setelah selesai process belajar-mengajar). Kakak itu mengatakan merasa senang adik itu kembali belajar lagi, adik itu mencurahkan isi hatinya sama kakak itu (curhat), dan adik itu merasa senang bisa menceritakan ada apa dengan kehidupannya saat itu. Dari sini, saya ambil kesimpulan bahwa dia bahagia, walaupun dalam kondisi yang saya deskripsikan diatas. Entah apapun itu yang buat dia bahagia, pasti ada senyum disana.

Ada 2 orang bahagia disaat cerita mereka berdua(adik dan kakak itu), si adik bahagia akhirnya menemukan tempat cerita, satu lagi si kakak bahagia adiknya datang kembali. Entah apa yang terjadi pada kakak itu, tapi saya melihat dia merasa senang menceritakan sesi “curhat”mereka saat proses belajar mengajar. Meskipun saya belum dapat merasakan/mengerti kenapa kakak itu merasa senang, apa yang terjadi dalam hatinya ketika mendengar seorang adik “curhat” kepadanya, saya berkesimpulan dia bahagia.

2 orang bahagia dalam suatu kondisi kemungkinan tidak ada kebahagiaan.

Hmmm…..rata-rata 60 orang adik asuh hadir setiap hari Sabtu dalam  ruangan kira 8m x 10m, suatu ruangan sempit untuk jumlah sebanyak itu dan rentang umur yang berbeda-beda. Mulai dari umur 3 tahun (kategori TK) sampai umur 17 tahun (SMA/SMK). Kondisi yang membuat tidak nyaman dalam proses belajar mengajar. Punya 1 jam 45 menit waktu untuk  mengajarkan sesuatu. Waktu yang sempit, kalau di perkuliahan hanya 2 SKS saja.

Apakah mereka (adik asuh) bahagia dengan kondisi itu(belajar)? Dimana kebahagiaan itu bisa mereka bawah ke rumah mereka yang melalui lorong sempit?

Saya hanya menjawab atas pertanyaan itu dengan kalimat” Lebih baik kita berbahagia dulu mengajar mereka dalam kondisi ruangan sempit dan waktu sempit, dalam kekurangan kita sebagai makhluk individu, dalam keterbatasan kita cara mengajar yang baik, karena kebanyakan dari kita bukan guru, tapi pengalaman kita bisa jadi guru bagi adik kita”,

………………………………………………

Biar jalan itu sempit, kita jalan satu persatu dengan selamat!!!

Selamat Malam Semua

Ben Parhusip

28 Februari 2012